Persiapan Sebelum Berangkat
“Rino, bengi iki disiapke
perlengkapan nggambar outdoor ya.
Besok pagi nggambar di Kalibaru…”
“Ya Pak. Jam berapa berangkat??
“Sekitar jam enam. Nek bisa luwih
esuk luwih becik”
“Oke aku siap jam setengah enem”
Kuranglebih percakapan semacam
itulah yang terjadi antara saya dan Bapak jika Bapak akan melukis outdoor ke mana pun. Saya sudah paham
apa yang harus saya persiapkan, saya sudah paham apa yang harus saya lakukan.
Biasanya saya lalu ke sanggar
tempat Bapak berkelindan setiap hari dengan cat, kanvas, dan obyek yang
dilukisnya. Di ruangan berbentuk trapesium mengikuti denah tanah, dan berukuran
sekira 5 dan 6 kali 12 meter itu Bapak tampak menikmati dunianya. Dunia yang
dia tekuni sejak tahun 1935an ketika Bapak berusia 22 tahun. Masih muda. Waktu
itu Bapak adalah sosok pemuda ganteng, dandy
dan dia kelihatannya sadar betul penampilannya yang kece. Bapak di jaman kolonial itu berpakaian necis celana panjang, baju,
dan sering dilapisi dengan jaket atau semi jas. Dia, sampai akhir hayatnya pada
tahun 1986, bukan tipe seniman yang tampil nyentrik dengan rambut gondrong
awut-awutan, hidup tidak teratur, pakaian tak terawat. Bukan. Bapak tipe orang
yang rapi, menjaga penampilannya, walau suatu saat nanti pada tahun 1940 dikatai
sebagai “pria pating klawir” dengan pendapatan yang tidak menentu oleh calon
mertuanya.
Kembali ke persiapan saya di
sanggar melukis Bapak. Pertama-tama saya siapkan ijsel. Saya tidak paham apa istilah dalam Bahasa Indonesianya. Ijsel adalah istilah dalam Bahasa Belanda.
Membacanya [ èisel ]. Orang berbahasa Inggris menyebutnya stand. Alat itu dipergunakan untuk meletakkan kanvas ketika seorang
pelukis sedang melukis.
Di dekat ijsel, selalu saya letakkan kanvas yang dipilih Bapak akan
digambari dalam outdoor painting
nantinya. Ukurannya tidak menentu, suka-suka Bapak saja.
Kemudian saya cuci semua kuas
gambar, entah berapa jenis dan ukuran kuas yang menjadi koleksi Bapak. Seingat
saya lebih dari duapuluhlima batang kuas berbagai ukuran. Ada beberapa yang
berukuran besar, itu saya kemas terpisah. Bersama kuas tentu saja saya siapkan
juga beberapa jenis pisau palet kami menyebutnya. Pisau palet berfungsi sebagai
alat pembersih palet dari cat yang mengering.
Lalu saya periksa semua cat minyak
dalam kemasan tube. Varian warnanya
seingat saya lebih dari 24 warna. Sebagian besar merk Greco yang lebih murah,
kurang lebih sepertiganya merk Rembrandt yang mahal. Saya memastikan bahwa cat
warna putih harus membawa minimal dua tube ukuran besar. Dan itu wajib yang
merk Rembrandt. Violet, Ultramarine Blue,
Turquise Green, dan Vermillion
juga Rembrandt. Sisanya boleh Greco. Bapak saat itu tidak mempergunakan merk
Talens. Semuanya itu kusiapkan dan kusimpan dalam kotak kayu. Kuas yang
berukuran besar saya kemas terpisah di luar kotak, karena ruang tidak cukup.
Kotak cat semacam inilah yang saya siapkan. Namun milik Bapak lebih besar. Palet milik Bapak juga sama dengan yang terlihat di foto ini.
Di samping kotak cat itu, masih
harus saya siapkan minyak tanah dalam jerrycan
kecil. Apa kalian sebut itu, jerigen ya? Bapak punya jerigen plastik impor,
kelihatannya dari Jepang. Bagus barangnya Itu kuisi minyak tanah, volumenya
sekitar 2 liter. Fungsi minyak tanah adalah sebagai cairan pembersih kuas dan
palet. Kecuali minyak tanah, tentu saja juga saya siapkan minyak cat. Kami
menyebutnya dalam istilah Bahasa Belanda, lijn
olie [ baca: lèin oli ].
Sebuah benda unik, yang mungkin
hanya Bapak yang memiliki, juga saya siapkan. Entahlah, apakah pelukis lain
memilikinya juga. Pak Basuki Abdullah mungkin punya yang buatan luar negeri
khusus dari pemasok perlengkapan melukis. Maklum dia pelukis kaya, bukan!? Bapak
dan saya “menciptakan” benda itu terbuat dari kaleng bekas susu bubuk. Penutup
kaleng itu saya jadikan sebagai saringan dengan cara membuat banyak lobang
dengan paku. Lalu dia saya pasangi empat
kawat besar sebagai penggantung ke bibir kaleng. Panjang kawat sedemikian rupa
sehingga jika keempat kawat digantungkan di bibir kaleng, maka saringan tersebut
akan berada di atas dasar kaleng sekira sedalam ¼ tinggi kaleng. Perangkat ini
kemudian diisi minyak tanah tiga perempatnya. Berfungsilah dia sebagai tempat
kuas diletakkan saat Bapak melukis, dan berfungsi sebagai tempat mencuci kuas
setelah Bapak selesai melukis. Bekas-bekas cat pada kuas yang saya bersihkan di
saringan akan meniris ke dasar kaleng. Sedangkan minyak tanah di atas saringan,
setelah beberapa menit akan tetap bersih karena cat mengendap. Demikianlah,
kaleng ini juga selalu tidak lupa saya siapkan.
Kemudian tentu saja kusiapkan palet,
yaitu baki atau tatakan tempat pelukis mewadahi berbagai warna cat. Benda itu
terbuat dari papan tipis dengan ketebalan sekitar 6mm atau 8mm. Pada palet ada
lobang tempat jari jempol diselipkan untuk tangan pelukis menggenggam si palet
di tangan kirinya jika pelukis tidak kidal. Jika kidal ya palet di tangan
kanan.
Oh iya, lap kaos. Saya juga
menyiapkan lap kaos, biasanya bekas oblong milik Bapak yang sudah robek. Itu
lap favoritku karena kandungan katunnya banyak sehingga baik untuk lap
pembersih cat. Bapak juga suka dengan jenis kain tersebut, karena dayaserapnya
tinggi.
Penyiapan seluruh perlengkapan
melukis untuk Bapak outdoor painting sudah
selesai. Saya bisa berangkat tidur. Kamar tidur saya adalah bangungan terpisah
dari rumah induk di berjarak sekitar 12 meter dari dinding Timur sanggar Bapak.
Tapi dinding ini tak berpintu hanya berjendela. Jadi saya lompat jendela,
menuju ke kamar. Karena jika harus lewat pintu saya malas, harus memutar rumah.
Sekilas Rumah Kami
Asal kalian paham saja. Rumah kami
di Jalan Raya Pasarminggu Km 18,2 itu bukan barang kecil seperti rumah jaman
sekarang. Lokasinya di sisi Timur jalan. Kalau sekarang persis di sebelah Utara
Omah Sarwono. Tanah seluas 2.100 meter persegi itu dibeli Bapak awal tahun 1960
setelah menikah dengan Ibu Rose. Konon saat itu harganya murah, karena persis
di sebelah pabrik pengolahan karet yang jika sedang mengolah karet baunya minta
ampun. Empat per sepuluh tanahnya untuk mertua Bapak, Opa Gustav Poppeck dan
Oma. Di sana mereka bangun rumah terpisah. Di belakangnya ada kebon singkong,
semak pisang, lalu perkampungan. Rumah awal kabarnya kecil saja, namun
lama-lama diperluas.
Jalan Raya Pasarminggu di depan rumah kami belum lama berselang setelah Bapak membeli tanah di Km 18,2. Sebelah kanan pada lukisan adalah sisi Barat jalan Pasarminggu
Di halaman rumah itu tumbuh tujuh
pohon rambutan. Ketujuhnya selalu berbuah lebat tiap musim. Sampai kami harus
membagikan buahnya kepada sanak-saudara dan handai taulan siapa saja yang mau
datang dan mengambil. Lima pohon menghasilkan buah rambutan sempurna, nglothok,
manisnya pas, tanpa air di dalamnya. Dua pohon lainnya manis juga, tapi minta
ampun tidak nglothok. Itu dibiarkan jatuh buahnya dan membusuk jadi pupuk
tanah. Mengapa tidak pernah punya pikiran menebaskan ketujuh pohon rambutan itu
ke pedagang buah, saya juga tidak tahu. Padahal Bapak juga butuh duit karena
dia bukan pelukis kaya.
Kembali ke urusan mau tidur setelah selesai di sanggar, saya malas berputar rumah demi melewati pintu. Maka lompat jendela saja. Saya tidur sekamar bersama Amirul Gustav, anak kedua Ibu Rose Pandanwangi. Karena hanya kami berdualah lelaki di keluarga kami kecuali Bapak tentunya. Lainnya perempuan, Tietje, Wicky, Pandan, Djuang, Maya, dan Ibu Rose.
Kembali ke urusan mau tidur setelah selesai di sanggar, saya malas berputar rumah demi melewati pintu. Maka lompat jendela saja. Saya tidur sekamar bersama Amirul Gustav, anak kedua Ibu Rose Pandanwangi. Karena hanya kami berdualah lelaki di keluarga kami kecuali Bapak tentunya. Lainnya perempuan, Tietje, Wicky, Pandan, Djuang, Maya, dan Ibu Rose.
Sudah ya, selamat malam. Saya mau
tidur. Itu pamitan saya jika ini saya tulis
pada jaman saya masih tinggal di Pasarminggu. Tapi ini saya tulis pada bulan
Oktober 2018. Nantikan bab berikutnya:
- · Di Lokasi Melukis
- · Bapak Terkucil Dari Lingkaran Seniman
- · Adam Malik dan Alex Papadimitrou
- · Bouquet Dari Konser Bu Rose
- · Tante Dewi dan Mijn Donkere Jongen
- · Atap Sanggar Selalu Bocor
- · Pesan Lis dan Spanraam di Cibinong
- · Spanraam dan Kanvas
- · Kecap Sialan dan Suharto
- · Unit danTrotoir
Kisah2 Selipan
- · Sayur Asem Duapuluhlima Perak
- · Naik Bis Kota Numpang
- · Mencuri Es Krim
- · Mencuri Rambutan
- · Mencuri Wine


