Thursday, October 18, 2018

Serial Abang Rahino dan Sudjojono: Kenek Melukis


Persiapan Sebelum Berangkat

“Rino, bengi iki disiapke perlengkapan nggambar outdoor ya. Besok pagi nggambar di Kalibaru…”
“Ya Pak. Jam berapa berangkat??
“Sekitar jam enam. Nek bisa luwih esuk luwih becik”
“Oke aku siap jam setengah enem”

Kuranglebih percakapan semacam itulah yang terjadi antara saya dan Bapak jika Bapak akan melukis outdoor ke mana pun. Saya sudah paham apa yang harus saya persiapkan, saya sudah paham apa yang harus  saya lakukan.

Biasanya saya lalu ke sanggar tempat Bapak berkelindan setiap hari dengan cat, kanvas, dan obyek yang dilukisnya. Di ruangan berbentuk trapesium mengikuti denah tanah, dan berukuran sekira 5 dan 6 kali 12 meter itu Bapak tampak menikmati dunianya. Dunia yang dia tekuni sejak tahun 1935an ketika Bapak berusia 22 tahun. Masih muda. Waktu itu Bapak adalah sosok pemuda ganteng, dandy dan dia kelihatannya sadar betul penampilannya yang kece. Bapak di jaman kolonial itu berpakaian necis celana panjang, baju, dan sering dilapisi dengan jaket atau semi jas. Dia, sampai akhir hayatnya pada tahun 1986, bukan tipe seniman yang tampil nyentrik dengan rambut gondrong awut-awutan, hidup tidak teratur, pakaian tak terawat. Bukan. Bapak tipe orang yang rapi, menjaga penampilannya, walau suatu saat nanti pada tahun 1940 dikatai sebagai “pria pating klawir” dengan pendapatan yang tidak menentu oleh calon mertuanya.

Kembali ke persiapan saya di sanggar melukis Bapak. Pertama-tama saya siapkan ijsel. Saya tidak paham apa istilah dalam Bahasa Indonesianya. Ijsel adalah istilah dalam Bahasa Belanda. Membacanya [ èisel ]. Orang berbahasa Inggris menyebutnya stand. Alat itu dipergunakan untuk meletakkan kanvas ketika seorang pelukis sedang melukis.

Di dekat ijsel, selalu saya letakkan kanvas yang dipilih Bapak akan digambari dalam outdoor painting nantinya. Ukurannya tidak menentu, suka-suka Bapak saja.

Kemudian saya cuci semua kuas gambar, entah berapa jenis dan ukuran kuas yang menjadi koleksi Bapak. Seingat saya lebih dari duapuluhlima batang kuas berbagai ukuran. Ada beberapa yang berukuran besar, itu saya kemas terpisah. Bersama kuas tentu saja saya siapkan juga beberapa jenis pisau palet kami menyebutnya. Pisau palet berfungsi sebagai alat pembersih palet dari cat yang mengering.

Lalu saya periksa semua cat minyak dalam kemasan tube. Varian warnanya seingat saya lebih dari 24 warna. Sebagian besar merk Greco yang lebih murah, kurang lebih sepertiganya merk Rembrandt yang mahal. Saya memastikan bahwa cat warna putih harus membawa minimal dua tube ukuran besar. Dan itu wajib yang merk Rembrandt. Violet, Ultramarine Blue, Turquise Green, dan Vermillion juga Rembrandt. Sisanya boleh Greco. Bapak saat itu tidak mempergunakan merk Talens. Semuanya itu kusiapkan dan kusimpan dalam kotak kayu. Kuas yang berukuran besar saya kemas terpisah di luar kotak, karena ruang tidak cukup.

Kotak cat semacam inilah yang saya siapkan. Namun milik Bapak lebih besar. Palet milik Bapak juga sama dengan yang terlihat di foto ini. 

Di samping kotak cat itu, masih harus saya siapkan minyak tanah dalam jerrycan kecil. Apa kalian sebut itu, jerigen ya? Bapak punya jerigen plastik impor, kelihatannya dari Jepang. Bagus barangnya Itu kuisi minyak tanah, volumenya sekitar 2 liter. Fungsi minyak tanah adalah sebagai cairan pembersih kuas dan palet. Kecuali minyak tanah, tentu saja juga saya siapkan minyak cat. Kami menyebutnya dalam istilah Bahasa Belanda, lijn olie [ baca: lèin oli ].

Sebuah benda unik, yang mungkin hanya Bapak yang memiliki, juga saya siapkan. Entahlah, apakah pelukis lain memilikinya juga. Pak Basuki Abdullah mungkin punya yang buatan luar negeri khusus dari pemasok perlengkapan melukis. Maklum dia pelukis kaya, bukan!? Bapak dan saya “menciptakan” benda itu terbuat dari kaleng bekas susu bubuk. Penutup kaleng itu saya jadikan sebagai saringan dengan cara membuat banyak lobang dengan paku. Lalu dia  saya pasangi empat kawat besar sebagai penggantung ke bibir kaleng. Panjang kawat sedemikian rupa sehingga jika keempat kawat digantungkan di bibir kaleng, maka saringan tersebut akan berada di atas dasar kaleng sekira sedalam ¼ tinggi kaleng. Perangkat ini kemudian diisi minyak tanah tiga perempatnya. Berfungsilah dia sebagai tempat kuas diletakkan saat Bapak melukis, dan berfungsi sebagai tempat mencuci kuas setelah Bapak selesai melukis. Bekas-bekas cat pada kuas yang saya bersihkan di saringan akan meniris ke dasar kaleng. Sedangkan minyak tanah di atas saringan, setelah beberapa menit akan tetap bersih karena cat mengendap. Demikianlah, kaleng ini juga selalu tidak lupa saya siapkan.

Kemudian tentu saja kusiapkan palet, yaitu baki atau tatakan tempat pelukis mewadahi berbagai warna cat. Benda itu terbuat dari papan tipis dengan ketebalan sekitar 6mm atau 8mm. Pada palet ada lobang tempat jari jempol diselipkan untuk tangan pelukis menggenggam si palet di tangan kirinya jika pelukis tidak kidal. Jika kidal ya palet di tangan kanan.

Oh iya, lap kaos. Saya juga menyiapkan lap kaos, biasanya bekas oblong milik Bapak yang sudah robek. Itu lap favoritku karena kandungan katunnya banyak sehingga baik untuk lap pembersih cat. Bapak juga suka dengan jenis kain tersebut, karena dayaserapnya tinggi.

Penyiapan seluruh perlengkapan melukis untuk Bapak outdoor painting sudah selesai. Saya bisa berangkat tidur. Kamar tidur saya adalah bangungan terpisah dari rumah induk di berjarak sekitar 12 meter dari dinding Timur sanggar Bapak. Tapi dinding ini tak berpintu hanya berjendela. Jadi saya lompat jendela, menuju ke kamar. Karena jika harus lewat pintu saya malas, harus memutar rumah.

Sekilas Rumah Kami

Asal kalian paham saja. Rumah kami di Jalan Raya Pasarminggu Km 18,2 itu bukan barang kecil seperti rumah jaman sekarang. Lokasinya di sisi Timur jalan. Kalau sekarang persis di sebelah Utara Omah Sarwono. Tanah seluas 2.100 meter persegi itu dibeli Bapak awal tahun 1960 setelah menikah dengan Ibu Rose. Konon saat itu harganya murah, karena persis di sebelah pabrik pengolahan karet yang jika sedang mengolah karet baunya minta ampun. Empat per sepuluh tanahnya untuk mertua Bapak, Opa Gustav Poppeck dan Oma. Di sana mereka bangun rumah terpisah. Di belakangnya ada kebon singkong, semak pisang, lalu perkampungan. Rumah awal kabarnya kecil saja, namun lama-lama diperluas.

Jalan Raya Pasarminggu di depan rumah kami belum lama berselang setelah Bapak membeli tanah di Km 18,2. Sebelah kanan pada lukisan adalah sisi Barat jalan Pasarminggu


Di halaman rumah itu tumbuh tujuh pohon rambutan. Ketujuhnya selalu berbuah lebat tiap musim. Sampai kami harus membagikan buahnya kepada sanak-saudara dan handai taulan siapa saja yang mau datang dan mengambil. Lima pohon menghasilkan buah rambutan sempurna, nglothok, manisnya pas, tanpa air di dalamnya. Dua pohon lainnya manis juga, tapi minta ampun tidak nglothok. Itu dibiarkan jatuh buahnya dan membusuk jadi pupuk tanah. Mengapa tidak pernah punya pikiran menebaskan ketujuh pohon rambutan itu ke pedagang buah, saya juga tidak tahu. Padahal Bapak juga butuh duit karena dia bukan pelukis kaya.

Kembali ke urusan mau tidur setelah selesai di sanggar, saya malas berputar rumah demi melewati pintu. Maka lompat jendela saja. Saya tidur sekamar bersama Amirul Gustav, anak kedua Ibu Rose Pandanwangi. Karena hanya kami berdualah lelaki di keluarga kami kecuali Bapak tentunya. Lainnya perempuan, Tietje, Wicky, Pandan, Djuang, Maya, dan Ibu Rose.

Sudah ya, selamat malam. Saya mau tidur. Itu pamitan saya jika ini  saya tulis pada jaman saya masih tinggal di Pasarminggu. Tapi ini saya tulis pada bulan Oktober 2018. Nantikan bab berikutnya:

  • ·         Di Lokasi Melukis
  • ·         Bapak Terkucil Dari Lingkaran Seniman
  • ·         Adam Malik dan Alex Papadimitrou
  • ·         Bouquet Dari Konser Bu Rose
  • ·         Tante Dewi dan Mijn Donkere Jongen
  • ·         Atap Sanggar Selalu Bocor
  • ·         Pesan Lis dan Spanraam di Cibinong
  • ·         Spanraam dan Kanvas
  • ·         Kecap Sialan dan Suharto
  • ·         Unit danTrotoir


Kisah2 Selipan
  • ·         Sayur Asem Duapuluhlima Perak
  • ·         Naik Bis Kota Numpang
  • ·         Mencuri Es Krim
  • ·         Mencuri Rambutan
  • ·         Mencuri Wine


Tuesday, October 16, 2018

Abang Rahino dan Sudjojono: Kenek Baca Koran dan Kenek Mobil


Kenek Baca Koran

“Truk tabrak rumah renggut tiga nyawa”
“Liyane wae…”
“Pabrik susu kental manis Indomilk diresmikan…”
“Ora usah, yang lain”
“Keamanan belum pulih benar”
“Apa itu, coba baca depannya”
“Pangdam lima Jaya kemarin mengatakan bahwa keamanan ibukota sudah sepenuhnya  teratasi. Namun belum pulih benar …”

Begitulah. Masa kecil sampai remaja saya berperan sebagai pembaca koran untuk Bapak ketika dalam perjalanan mobil menuju ke suatu tempat. Koran dibeli eceran di jalan, bukan berlangganan. Keuangan keluarga tidak memungkinkan untuk berlangganan surat kabar. Jika ada berita menarik saja Bapak membeli koran dari pinggir jalan.

Sembari Bapak mengendarai mobil menuju lokasi tujuan, saya yang duduk di sebelah kanan Bapak di kursi depan membuka-buka halaman koran, dan membacakan judul-judul berita yang ada. Bapak lalu meminta saya membaca isi berita yang judul-judulnya menarik perhatianya. Seringkali saya diminta berhenti membaca di tengah artikel jika sudah dianggapnya cukup informasi diserapnya. Lalu saya diminta membaca judul berita lain. Begitu seterusnya dalam perjalanan kami.

Bapak pemerhati perkembangan sosial politik dan kebudayaan keseharian. Tentu saja demikian, karena sebagai seorang seniman besar, bekas pejuang kemerdekaan, mantan anggota parpol, dan pensiunan anggota Parlemen,  Bapak dapat dipastikan ingin selalu ter-update dengan situasi sosekpolbud terkini.

Tetapi Bapak tidak lagi aktif di kegiatan sosial atau pun politik. Bahkan kebudayaan pun tidak. Bapak agaknya sudah terkunci, terasing dari habitatnya sebelum 1957. Seorang S.Sudjojono yang saya kenal bukan lagi seorang raksasa senirupa Indonesia sebagaimana digambarkan oleh Trisno Soemardjo pada tahun 1949. Di bab lain akan saya ceritakan tentang hal ini secara khusus.

Kenek Mobil

Salahsatu tugas Bapak di keluarga kami saat itu adalah menjadi pengemudi mobil bagi kami anak-anaknya dan bagi istrinya, Ibu Rose Pandanwangi, ibu tiri saya. Mobil tunggangan kami adalah Ford Customline tahun 1956 bernomor polisi B.458.A. Mobil itu diimpor CBU alias completely built up. Sebelum masa Orba mana ada industri asembling mobil di Indonesia ‘kan!? Saat itu adanya importir seperti Inremco (Indonesia Republic Motor Company) yang agen tunggal Ford. Lalu ada importir Fiat dari Italia, kelihatannya milik Hasyim Ning.

Karena CBU dari Amerika Serikat maka mobil Bapak stir kiri. Maklumlah, mana mau Henry Ford Jr bikin mobil khusus buat orang Indonesia dengan stir kanan, karena pembeli ‘kan sedikit. Sedangkan bis kota impor dari dari Jerman Timur pada tahun 1965 dibiarkan stir kiri oleh pabriknya. Merknya Robur. Padahal Presiden Soekarno beli 200 biji untuk bis kota di DKI pengganti trem. Bajigur tenan koq orang Jerman Timur itu. Begitu itu Bung Karno ya mau-mauya dikadhali mereka.

Jadi karena stir kiri, Bapak mengalami kesulitan dalam menyetir mobil. Ketika akan mendahului mobil di depannya, Bapak tidak bisa melihat jalur lawan apakah aman atau tidak. Maka diangkatlah saya sebagai salahsatu kenek nyopirnya. Kenek Bapak yang lain adalah Ibu Rose, dan Amir’ul Gustav, anak kedua Ibu Rose dari suami pertama. Yang lain tidak pernah, mungkin karena semua perempuan, dan dua adik saya waktu itu masih kecil, bahkan Maya masih bayi.

Vrij kanan…” demikian biasanya saya laporan ke Bapak jika tahu beliau akan mendahului mobil depannya. Lalu Bapak buang kanan dan tancap gas. Saya pun bertugas melambai-lambaikan tangan ke kanan jika kami akan meminta jalan ke kanan, atau memutar-mutarkan jemari tangan kanan saya ke arah kiri jika kami akan belok kiri. Kalian pasti bertanya, mengapa tidak menyalakan richting saja? Heeeiii, come on, itu jaman susah asal kalian paham. Bisa makan saja sudah beruntung. Sukucadang bernama  flasher untuk menghidupkan richting itu import dari AS dan harganya minta ampun! Jadi richting mobil Bapak nyaris gak pernah bisa hidup. Sebagai pengganti ya tangan para keneknya harus siap ndhepaplang minta jalan setiap saat dibutuhkan.

Sampailah kami di lokasi melukis Bapak. Silakan nantikan bab berikutnya: Kenek Melukis…

Lukisan portrait S.Sudjojono, karya Pandhelanang Wisnu Radjah, buyut Sang Maestro dari cucu Arnastya Mia Adityarini