Saturday, July 27, 2019

Langkah Berani Konservasi Seni Rupa di Ruang Publik


Adalah Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Kemendikbud dan Pusat Pengelolaan Kawasan Kemayoran (PPKK) yang telah dengan sangat berani mengambil langkah penting, berarti dan bermakna besar. Walau langkah ini tampak sederhana dan bisa dikatakan sebagai langkah “kecil” jika dipandang dari luar dan terlebih bagi mereka yang tidak mendalami dan memahami permasalahannya. Namun sekali lagi, ini sebuah langkah berani dan bermakna besar. Apa pasal?
Salahsatu sudut pameran "Konservasi Karya Seni Rupa di Ruang Publik". Tampak di latarbelakang bertutup kain hitam, adalh bagian relief karya S.Sudjojono yang dijebol untuk membuat pintu (foto: A.Rahino)

Direktorat Kesenian dan PPKK tanggal 17 Juli 2019 punya hajatan yang menandai peresmian pameran Konservasi Karya Seni Rupa di Ruang Publik. Jika hanya itu tidaklah terlalu penting. Namun hajatan itu mengambil situs ex-ruang VIP Gedung Terminal Bandara Kemayoran yang berhiaskan relief beton. Tiga relief beton karya seniman senior Indonesia itu adalah relief beton pertama yang pernah dibuat di Indonesia. Relief2 di candi2 pada umumnya dipahat di batu alam.
Lalu, PPKK dan Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan sepakat membuat peta jalan (road map) menuju pendaftaran ex-gedung terminal Bandara Kemayoran itu sebagai cagar budaya. Niat inilah yang menurut Penulis adalah langkah sangat berani dalam mengambil langkah penting, penuh arti, dan bermakna besar itu. Betulkah? Bukankah banyak bangunan yang didaftarkan sebagai cagar budaya? Apa istimewanya dengan langkah di Kemayoran?

Perwakilan keluarga dari ketiga seniman pemahat relief beton Bandara Kemayoran (foto: Yuke Ardhiati)

  
Tiga Tantangan
Relief beton di ruang VIP itu dibuat atas permintaan Presiden Soekarno kepada para seniman yang tergabung dalam Sanggar Seniman Indonesia Muda, Yogyakarta atau SIM. Adalah S.Sudjojono, Harjadi, dan Soerono yang mengerjakan tiga relief dengan tema berbeda tersebut. S.Sudjojono membuat tema “Manusia Indonesia”, Harjadi membuat tema “Flora dan Fauna Indonesia”, dan Soerono membuat legenda Tanah Pasundan “Sangkuriang”.
            Kalangan senirupa seperti Suwarno Wisetrotomo atau Aminuddin Th.Siregar atau Amir Sidharta tentu sangat paham bahwa SIM berhaluan kiri. Itulah sebabnya sejak Orde Baru berkuasa, dinding berhias tiga bentang relief beton yang dibuat pertama kali pada jaman Indonesia modern itu ditutup dengan multiplex yang dilapisi wallpaper. Vandalisme juga diderita terutama pada karya S.Sudjojono. Di bagian tengah relief karya Sudjojono dilobangi sebesar pintu, agaknya memang dipergunakan sebagai pintu. Kemudian di bagian paling kanan pahatan pohon diratakan untuk meletakkan kotak panel listrik.
Sebagian relief beton di bangunan eks ruang VIP Terminal Bandara Kemayoran (foto: A.Rahino)

Tentu langkah penutupan itu terkait dengan desoekarnoisasi dan dekirinisasi. Semua yang berbau Soekarno dan berbau kiri dikikis habis oleh rejim Orba dari bumi Indonesia. Sehingga tantangan pertama kedua lembaga berbeda ketika berkomitmen akan mencagarbudayakan bangunan dengan relief bersejarah tersebut terkait dengan ranah ideologi. Namun semesta agaknya masih mendukung, karena relief2 itu oleh rejim Orba hanya ditutup multipleks, tidak dibongkar seperti situs2 sejarah Syria kuna oleh gerombolan ISIS di Suriah.
Kemudian setelah bandara Halim Perdanakusuma dimanfaatkan sebagai pengganti Kemayoran, dan lahan bekas bandara Kemayoran dikuasai Setneg serta dikerjasamakan dengan pihak swasta dalam skema BOT (built - operation - transfer), maka lahan strategis tersebut menjadi melonjak nilainya. Berbagai gedung bertingkat tinggi (towers) bermunculan dengan berbagai fungsinya masing-masing. Ada apartemen, ada pusat perbelanjaan, ada perkantoran, hotel, dan dibangun pula lokasi perhelatan dan pameran yang antara lain dimanfaatkan secar tahunan oleh penyelenggara Jakarta Fair. Maka kepentingan bisnis pun muncul dalam kaitannya dengan situs relief ketiga seniman ini. Karena lokasi ex-gedung VIP Bandara Kemayoran ini di Jl.Angkasa Raya, salahsatu dari dua jalan raya utama di kawasan bekas bandara Kemayoran. Denah tanahnya berbentuk segitiga sangat strategis. Kepentingan bisnis trilyunan rupiah ini tentu berdampak pada ide pemrosesan pendaftaran sebagai cagar budaya.
DR.Yuke Ardhiati, arsitek ahli yang meneliti bangunan2 karya dan ide Bung Karno mengatakan kepada saya bahwa urusan ini masih terkait erat dan harus berhubungan dengan “mereka yang di atas sana”. Tentu yang dimaksud adalah para kroni Orba yang menguasai kawasan ex bandara Kemayoran. “Sehingga walau sudah ada komitmen dengan Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, pihak PPKK tentu harus melangkah hati-hati...” jelasnya. Saya sangat memahami apa yang dikatakan Mbak Yuke. Aspek bisnis ini menjadi tantangan kedua setelah aspek ideologis.
DR.Yuke Ardhiati (tengah), Tenaga Ahli kegiatan Konservasi Karya Seni Rupa di Ruang Publik

Sebagaimana terjadi di ranah apa pun di Indonesia ini, hal pencatatan dan kearsipan pada umumnya sangat lemah. Itu termasuk di bidang kesenian Indonesia modern sekali pun. Tidak seperti Belanda misalnya. Di Negeri Kincir Angin tersebut kita bisa dengan mudah mencari informasi sahih dan rinci misalnya tentang perjalanan hidup dua pelukis legendaris mereka yang berbeda aliran, Vincent van Gogh dan Rembrandt Harmenszoon van Rijn. Ada catatannya, ada hasil risetnya, semua dinarasikan secara detil.
Namun di Indonesia tidak demikian. S.Sudjojono misalnya, tidak memiliki tradisi membuat katalog semua hasil karya senirupanya yang meliputi lukisan, patung, maupun relief. Dia tidak mencatat latarbelakang proses kreatif semua lukisan tersebut. Dia pun tidak menulis jalan hidupnya. Generasi berikut harus berjuang keras menggali informasi mengenai S.Sudjojono, walau pun oleh Trisno Soemardjo ia dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia. Suwarno Wisetrotomo dan Aminuddin Th. Siregar - dua dosen senirupa masing-masing berurutan di ISI Yogyakarta dan FSRD ITB - pasti mengalami perjuangan tak kenal lelah sekedar untuk mengenal lebih jauh siapa figur Sudjojono itu ketika mereka menyusun skripsi dan tesis masing-masing.
Hal miskinnya informasi semacam itulah yang juga dialami oleh DR.Yuke Ardhiati sebagai tenaga ahli proyek konservasi situs di Kemayoran ini dan juga pihak Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Kemendikbud. Sekaligus itu menjadi tantangan ketiga dalam proyek ini. Paling tidak itulah yang disampaikan Kasubdit Kesenian Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, Susi dan Yuke kepada Penulis.
Para wakil keluarga seniman Santu Wirono (dua kiri) mewakili keluarga Harjadi, Tedjabayu (tiga kanan) mewakili keluarga S.Sudjojono, dan Dewi Puspasari Sp (dua kanan) mewakili keluarga Surono. Mereka menerima penghargaan dari Kemendikbud dan PPKK mewakili keluarga masing-masing. 


Institut S.Sudjojono
Dengan konteks miskinnya informasi demikian, dibangun ihtiar berdirinya Institut S.Sudjojono. Sebagai visi, entitas ini diharapkan menjadi lembaga yang mewakili, mewadahi, merawat dan mengembangkan nilai-nilai karakter budaya berkesenian yang ditawarkan S.Sudjojono, yaitu yang menampakkan jiwa yang memiliki keberanian untuk dengan jujur membela kebenaran dalam berkesenian. Aspek tangible atau hal tak benda dari karakter berkesenian yang demikian yang menjadi wacana S.Sudjojono ini perlu dikonservasi menjadi sumber informasi terkait isu-isu keindonesiaan dalam bersenirupa yang diperjuangkannya.
             Kepada Kemendikbud melalui Dra.Sri Hartini, M.Si, Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan, dan melaui Kasubdit Kesenian Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan, Penulis berbagi informasi secara informal terkait ISS ini.
             Upaya konservasi aspek non-bendawi dari wacana ideologis bersenirupa S.Sudjojono bahkan oleh keluarganya sendiri pun mengalami berbagai kendala. Penyebab utama dari terkendalanya proses konservasi ini adalah miskinnya tradisi literer bahkan oleh kalangan terpelajar seperti S.Sudjojono.
Karenanya pameran yang menjadi bagian dari peta jalan menuju ditetapkannya eks gedung terminal VIP Bandara Kemayoran yang dihiasi dengan relief beton karya S.Sudjojono, Harijadi dan Soerono ini menjadi batu penjuru (milestone) penting dalam perjalanan perkembangan senirupa modern Indonesia. Menjadi penting apa yang disampaikan oleh Sri Hartini, Sekretaris Ditjen Kebudayaan, bahwa pengetahuan dan pemahaman tentang nilai-nilai historis yang terkandung dalam simbol-simbol pada karya seni rupa Indonesia sangat penting dibagikan kepada generasi muda. Langkah itu menjadi bagian dari pengembangan budi pekerti bangsa, yang adalah pilar penting pembangunan sumberdaya manusia Indonesia dan pemajuan budaya bangsa.[ar].