Jam 4.30 saya sudah bangun. Segera
saya menyapu rumah tugas harian saya. Lalu ngepel lantai seluruh rumah. Lalu
menyapu pekarangan yang minta ampun luasnya. Sesudah itu saya ke mobil,
memeriksa kesiapan mobil sesuai protap (prosedur tetap) yang digariskan Bapak
kepada saya dan Amir, yang punya tugas untuk hal itu. Buka kap mesin, periksa
oli, periksa ketegangan tali kipas (fan
belt), periksa kecukupan air radiator, kekencangan kabel busi di Delco dan
di busi, periksa kecukupan minyak rem, dan periksa ban termasuk ban serep.
Kecuali itu periksa apakah dongkrak, kunci roda, dan kunci2 ada di bak
belakang. Jadi ada delapan hal dalam protap jika saya harus berurusan dengan
mobil Ford Customline buatan tahun 1956 milik Bapak itu, sebelum mesin
dinyalakan untuk pemanasan mesin beberpa menit. Lelah juga melakukan tugas
harian pagi saya. Tapi mau bilang apa, karena memang sudah tugas harian.
Lalu semua barang yang malam
sebelumnya saya siapkan untuk Bapak menggambar outdoor, saya masukkan ke mobil. Ijsel, kotak cat, jerrycan, minyak
cat, semua masuk bak belakang. Kanvas saya letakkan di jok belakang.
“Wis kabeh ora ana sing
ketinggalan?”
“Wis Pak”
![]() |
| Bapak, kedua dari kanan memangku Mbak Sri Nasti Rukmawati, di rumah kami saat masih di Jl.Pakuningratan 40, Yogyakarta. Saat itu Bapak dan Ibu Mia Bustam, ibu kandung saya, belum bercerai. |
Lalu kami berangkat. Jika ke
pelabuhan kapal rakyat Kalibaru, kami berangkat jam 5.30an. Jika Bapak
menggambar model potret seseorang, maka keberangkatan sesuai jadual si model
bisanya jam berapa. Saat itu Jakarta belum mengenal kata macet. Dari
Pasarminggu Km 18,2 lokasi rumah kami yang sekitar 2km di Selatan TMP Kalibata,
hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Kalibaru di kawasan
Cilincing. Mungkin malah setengah jam saja. Kami menyusuri Jl.Raya Pasarminggu,
di bunderan Pancoran yang ada patungnya itu memutar ke arah Timur menuju
Cawang, lalu ke Utara menyusuri Jalan Bypass sampai Tanjung Priok lalu belok ke
Timur. Di sebuah jalan kampung kumuh kami belok ke Utara sampailah kami di
kampung nelayan Kalibaru.
Dalam perjalanan semacam itu jika
ada berita menarik dan bila Bapak punya cukup uang, suratkabar Kompas dibeli
dari penjual tepi jalan. Lalu saya menjalankan tugas sebagai kenek pembaca
koran sebagaimana sudah saya ceritakan sebelumnya. Satu per satu judul headline maupun sub-headline saya baca. Berita sidebar
pun saya baca judulnya. Karena Bapak juga sering minta dibacakan sidebar news semacam itu. Memang banyak
juga berita menarik dari sidebar column.
Tugas Kenek Melukis
Banyak tugas yang harus dilakukan
seorang kenek melukis seperti saya. Paling tidak jika jabatan itu untuk
mengabdi pada Bapak saya, seorang S.Sudjojono. Dia memang orangnya lumayan
teliti dalam urusan melukis. Tapi bagi saya tidak masalah, saya suka cara dia
menjalani profesinya.
Tugas pertama saya setiba kami di
lokasi melukis terbuka seperti di Pelabuhan Rakyat Kalibaru adalah menjaga
mobil dengan tetap duduk di dalam mobil selama Bapak melakukan survei lokasi, sort of. Bapak selalu melakukan survei lokasi yang
dianggapnya tepat untuk melukis. Setelah didapatnya titik menggambar itu, Bapak
akan meminta ijin orang sekitar untuk menggambar di lokasi itu. Lalu Bapak akan
kembali ke mobil, dan mengajak saya
mengangkuti semua perlengkapan melukis. Di titik lokasi melukis saya
biasanya bertanya, angle atau view mana yang akan Bapak lukis.
“Obyeke kuwi, kapal-kapal kuwi, uwong-uwong sing lagi nyambut gawe
bongkar-muat barang kae…” Itu obyek gambarnya, kapal-kapal itu, orang-orang
yang sedang bekerja bongkar-muat barang itu…
“Oke, dadi kira-kira nang kene ya Pak. Menghadap mrana?” Oke, jadi
kira-kira di sini ya Pak. Menghadap ke sana
“Iya…mengko tak penerke nek ora pas” Iya,… nanti saya perbaiki
posisinya jika enggak pas.
Begitulah saat titik kami sepakati,
lalu saya melaksanakan tugas kedua, yaitu menyiapkan uba rampe segala hal yang diperlukan Bapak melukis. Itu antara lain
mendirikan ijsel. Meletakkan kanvas
pada ijsel itu. Menggelar koran bekas
untuk meletakkan lap, kwas kering, dan palet. Cat tetap di kotaknya. Bapak
memilih cat lalu mem-plothot-kannya
ke palet. Saya pun melakukan hal yang sama pada cat yang sudah dipilih Bapak.
Kaleng minyak tanah saya siapkan, lalu saya isi minyak tiga perempatnya. Lijn olie sudah di kalengnya. Bapak pun
siap melukis.
Dapat dipastikan bahwa ketika Bapak
melukis outdoor demikian, terjadi
kerumunan masyarakat besar-kecil, ibu-ibu, bapak-bapak, dan juga anak-anak.
Mereka bergerombol di balakang Bapak melihat kegiatan melukis yang
dilakukannya. Ada juga beberapa anak yang narsis di view area sambil melakukan gerakan-gerakan lucu berharap mereka
digambar Bapak dan masuk dalam kanvas. Mungkin mereka membayangkan melukis
demikian sama dengan memotret yang sekali jepret jadi. Tapi begitulah
anak-anak. Dunia mereka memang dunia bermain, hampir semua serba main-main dan
bergembira, jarang yang serius. Sedangkan dunia dewasa sebaliknya, namun tidak
jarang yang seperti kanak-kanak. Misalnya yang di Senayan sana, itu menurut Gus
Dur. Bukan saya yang bilang!
Nah, memahami bahwa sitlok alias situasi lokasi demikian,
maka tugas ketiga saya dalam proyek Bapak melukis outdoor adalah memastikan bahwa orang sekitar tidak mengganggu
kegiatan menggambar Bapak dalam arti luas: menutupi area pandang, bermain
dengan cat dan perlengkapan menggambar lain, atau mengajak ngobrol Bapak. Tidak
jarang saya ajak anak-anak main atau ngobrol di luar area pandang, atau
mengajak omong atau menjelaskan sesuatu kepada kerumununan orang dewasa di
sekitar Bapak. Mereka sering bertanya banyak hal. Dan saya seolah menjadi
jurubicara Bapak. Tidak jelas apa yang ada dalam pikiran Bapak selama saya
melayani berbagai pertanyaan mereka.
Begitulah yang terjadi sampai
kegiatan melukis selesai.
Nantikan bab berikutnya:
- Mendongeng Untuk Model
- Jangan Suka Berbohong
- Terkucil Dari Lingkaran Seniman
- Adam Malik dan Alex Papadimitr
- Bouquet Dari Konser Bu Rose
- Tante Dewi dan Mijn Donkere Jongen
- Atap Sanggar Selalu Bocor
- Pesan Bingkai dan Spanraam di Cibinong
- Spanraam dan Kanvas
- Lomba Menggambar Kedubes Jepang
Kisah2 Selipan
- Sayur Asem Duapuluhlima Perak
- Naik Bis Kota Numpang
- Mencuri Es Krim
- Mencuri Rambutan
- Mencuri Wine
- Kecap Sialan dan Suharto
- Unit danTrotoir




