Kenek Baca Koran
“Truk tabrak rumah renggut tiga
nyawa”
“Liyane wae…”
“Pabrik susu kental manis Indomilk
diresmikan…”
“Ora usah, yang lain”
“Keamanan belum pulih benar”
“Apa itu, coba baca depannya”
“Pangdam lima Jaya kemarin
mengatakan bahwa keamanan ibukota sudah sepenuhnya teratasi. Namun belum pulih benar …”
Begitulah. Masa kecil sampai remaja
saya berperan sebagai pembaca koran untuk Bapak ketika dalam perjalanan mobil menuju
ke suatu tempat. Koran dibeli eceran di jalan, bukan berlangganan. Keuangan
keluarga tidak memungkinkan untuk berlangganan surat kabar. Jika ada berita
menarik saja Bapak membeli koran dari pinggir jalan.
Sembari Bapak mengendarai mobil
menuju lokasi tujuan, saya yang duduk di sebelah kanan Bapak di kursi depan
membuka-buka halaman koran, dan membacakan judul-judul berita yang ada. Bapak
lalu meminta saya membaca isi berita yang judul-judulnya menarik perhatianya.
Seringkali saya diminta berhenti membaca di tengah artikel jika sudah
dianggapnya cukup informasi diserapnya. Lalu saya diminta membaca judul berita
lain. Begitu seterusnya dalam perjalanan kami.
Bapak pemerhati perkembangan sosial
politik dan kebudayaan keseharian. Tentu saja demikian, karena sebagai seorang
seniman besar, bekas pejuang kemerdekaan, mantan anggota parpol, dan pensiunan anggota Parlemen,
Bapak dapat dipastikan ingin selalu ter-update dengan situasi sosekpolbud
terkini.
Tetapi Bapak tidak lagi aktif di
kegiatan sosial atau pun politik. Bahkan kebudayaan pun tidak. Bapak agaknya
sudah terkunci, terasing dari habitatnya sebelum 1957. Seorang S.Sudjojono yang
saya kenal bukan lagi seorang raksasa senirupa Indonesia sebagaimana
digambarkan oleh Trisno Soemardjo pada tahun 1949. Di bab lain akan saya
ceritakan tentang hal ini secara khusus.
Kenek Mobil
Salahsatu tugas Bapak di keluarga
kami saat itu adalah menjadi pengemudi mobil bagi kami anak-anaknya dan bagi
istrinya, Ibu Rose Pandanwangi, ibu tiri saya. Mobil tunggangan kami adalah
Ford Customline tahun 1956 bernomor polisi B.458.A. Mobil itu diimpor CBU alias
completely built up. Sebelum masa
Orba mana ada industri asembling mobil di Indonesia ‘kan!? Saat itu adanya
importir seperti Inremco (Indonesia Republic Motor Company) yang agen tunggal
Ford. Lalu ada importir Fiat dari Italia, kelihatannya milik Hasyim Ning.
Karena CBU dari Amerika Serikat
maka mobil Bapak stir kiri. Maklumlah, mana mau Henry Ford Jr bikin mobil
khusus buat orang Indonesia dengan stir kanan, karena pembeli ‘kan sedikit.
Sedangkan bis kota impor dari dari Jerman Timur pada tahun 1965 dibiarkan stir
kiri oleh pabriknya. Merknya Robur. Padahal Presiden Soekarno beli 200 biji
untuk bis kota di DKI pengganti trem. Bajigur tenan koq orang Jerman Timur itu.
Begitu itu Bung Karno ya mau-mauya dikadhali mereka.
Jadi karena stir kiri, Bapak
mengalami kesulitan dalam menyetir mobil. Ketika akan mendahului mobil di
depannya, Bapak tidak bisa melihat jalur lawan apakah aman atau tidak. Maka
diangkatlah saya sebagai salahsatu kenek nyopirnya. Kenek Bapak yang lain
adalah Ibu Rose, dan Amir’ul Gustav, anak kedua Ibu Rose dari suami pertama.
Yang lain tidak pernah, mungkin karena semua perempuan, dan dua adik saya waktu
itu masih kecil, bahkan Maya masih bayi.
“Vrij kanan…” demikian biasanya
saya laporan ke Bapak jika tahu beliau akan mendahului mobil depannya. Lalu
Bapak buang kanan dan tancap gas. Saya pun bertugas melambai-lambaikan tangan
ke kanan jika kami akan meminta jalan ke kanan, atau memutar-mutarkan jemari
tangan kanan saya ke arah kiri jika kami akan belok kiri. Kalian pasti bertanya,
mengapa tidak menyalakan richting
saja? Heeeiii, come on, itu jaman
susah asal kalian paham. Bisa makan saja sudah beruntung. Sukucadang bernama flasher
untuk menghidupkan richting itu import dari AS dan harganya minta ampun! Jadi
richting mobil Bapak nyaris gak pernah bisa hidup. Sebagai pengganti ya tangan
para keneknya harus siap ndhepaplang minta jalan setiap saat dibutuhkan.
Sampailah kami di lokasi melukis
Bapak. Silakan nantikan bab berikutnya: Kenek Melukis…
Lukisan portrait S.Sudjojono, karya Pandhelanang Wisnu Radjah, buyut Sang Maestro dari cucu Arnastya Mia Adityarini

No comments:
Post a Comment
Comments/Pesan: