Tuesday, October 16, 2018

Abang Rahino dan Sudjojono: Kenek Baca Koran dan Kenek Mobil


Kenek Baca Koran

“Truk tabrak rumah renggut tiga nyawa”
“Liyane wae…”
“Pabrik susu kental manis Indomilk diresmikan…”
“Ora usah, yang lain”
“Keamanan belum pulih benar”
“Apa itu, coba baca depannya”
“Pangdam lima Jaya kemarin mengatakan bahwa keamanan ibukota sudah sepenuhnya  teratasi. Namun belum pulih benar …”

Begitulah. Masa kecil sampai remaja saya berperan sebagai pembaca koran untuk Bapak ketika dalam perjalanan mobil menuju ke suatu tempat. Koran dibeli eceran di jalan, bukan berlangganan. Keuangan keluarga tidak memungkinkan untuk berlangganan surat kabar. Jika ada berita menarik saja Bapak membeli koran dari pinggir jalan.

Sembari Bapak mengendarai mobil menuju lokasi tujuan, saya yang duduk di sebelah kanan Bapak di kursi depan membuka-buka halaman koran, dan membacakan judul-judul berita yang ada. Bapak lalu meminta saya membaca isi berita yang judul-judulnya menarik perhatianya. Seringkali saya diminta berhenti membaca di tengah artikel jika sudah dianggapnya cukup informasi diserapnya. Lalu saya diminta membaca judul berita lain. Begitu seterusnya dalam perjalanan kami.

Bapak pemerhati perkembangan sosial politik dan kebudayaan keseharian. Tentu saja demikian, karena sebagai seorang seniman besar, bekas pejuang kemerdekaan, mantan anggota parpol, dan pensiunan anggota Parlemen,  Bapak dapat dipastikan ingin selalu ter-update dengan situasi sosekpolbud terkini.

Tetapi Bapak tidak lagi aktif di kegiatan sosial atau pun politik. Bahkan kebudayaan pun tidak. Bapak agaknya sudah terkunci, terasing dari habitatnya sebelum 1957. Seorang S.Sudjojono yang saya kenal bukan lagi seorang raksasa senirupa Indonesia sebagaimana digambarkan oleh Trisno Soemardjo pada tahun 1949. Di bab lain akan saya ceritakan tentang hal ini secara khusus.

Kenek Mobil

Salahsatu tugas Bapak di keluarga kami saat itu adalah menjadi pengemudi mobil bagi kami anak-anaknya dan bagi istrinya, Ibu Rose Pandanwangi, ibu tiri saya. Mobil tunggangan kami adalah Ford Customline tahun 1956 bernomor polisi B.458.A. Mobil itu diimpor CBU alias completely built up. Sebelum masa Orba mana ada industri asembling mobil di Indonesia ‘kan!? Saat itu adanya importir seperti Inremco (Indonesia Republic Motor Company) yang agen tunggal Ford. Lalu ada importir Fiat dari Italia, kelihatannya milik Hasyim Ning.

Karena CBU dari Amerika Serikat maka mobil Bapak stir kiri. Maklumlah, mana mau Henry Ford Jr bikin mobil khusus buat orang Indonesia dengan stir kanan, karena pembeli ‘kan sedikit. Sedangkan bis kota impor dari dari Jerman Timur pada tahun 1965 dibiarkan stir kiri oleh pabriknya. Merknya Robur. Padahal Presiden Soekarno beli 200 biji untuk bis kota di DKI pengganti trem. Bajigur tenan koq orang Jerman Timur itu. Begitu itu Bung Karno ya mau-mauya dikadhali mereka.

Jadi karena stir kiri, Bapak mengalami kesulitan dalam menyetir mobil. Ketika akan mendahului mobil di depannya, Bapak tidak bisa melihat jalur lawan apakah aman atau tidak. Maka diangkatlah saya sebagai salahsatu kenek nyopirnya. Kenek Bapak yang lain adalah Ibu Rose, dan Amir’ul Gustav, anak kedua Ibu Rose dari suami pertama. Yang lain tidak pernah, mungkin karena semua perempuan, dan dua adik saya waktu itu masih kecil, bahkan Maya masih bayi.

Vrij kanan…” demikian biasanya saya laporan ke Bapak jika tahu beliau akan mendahului mobil depannya. Lalu Bapak buang kanan dan tancap gas. Saya pun bertugas melambai-lambaikan tangan ke kanan jika kami akan meminta jalan ke kanan, atau memutar-mutarkan jemari tangan kanan saya ke arah kiri jika kami akan belok kiri. Kalian pasti bertanya, mengapa tidak menyalakan richting saja? Heeeiii, come on, itu jaman susah asal kalian paham. Bisa makan saja sudah beruntung. Sukucadang bernama  flasher untuk menghidupkan richting itu import dari AS dan harganya minta ampun! Jadi richting mobil Bapak nyaris gak pernah bisa hidup. Sebagai pengganti ya tangan para keneknya harus siap ndhepaplang minta jalan setiap saat dibutuhkan.

Sampailah kami di lokasi melukis Bapak. Silakan nantikan bab berikutnya: Kenek Melukis…

Lukisan portrait S.Sudjojono, karya Pandhelanang Wisnu Radjah, buyut Sang Maestro dari cucu Arnastya Mia Adityarini

No comments:

Post a Comment

Comments/Pesan: