Thursday, November 15, 2018

Serial Abang Rahino dan Sudjojono: Di Lokasi Melukis


Jam 4.30 saya sudah bangun. Segera saya menyapu rumah tugas harian saya. Lalu ngepel lantai seluruh rumah. Lalu menyapu pekarangan yang minta ampun luasnya. Sesudah itu saya ke mobil, memeriksa kesiapan mobil sesuai protap (prosedur tetap) yang digariskan Bapak kepada saya dan Amir, yang punya tugas untuk hal itu. Buka kap mesin, periksa oli, periksa ketegangan tali kipas (fan belt), periksa kecukupan air radiator, kekencangan kabel busi di Delco dan di busi, periksa kecukupan minyak rem, dan periksa ban termasuk ban serep. Kecuali itu periksa apakah dongkrak, kunci roda, dan kunci2 ada di bak belakang. Jadi ada delapan hal dalam protap jika saya harus berurusan dengan mobil Ford Customline buatan tahun 1956 milik Bapak itu, sebelum mesin dinyalakan untuk pemanasan mesin beberpa menit. Lelah juga melakukan tugas harian pagi saya. Tapi mau bilang apa, karena memang sudah tugas harian.

Lalu semua barang yang malam sebelumnya saya siapkan untuk Bapak menggambar outdoor, saya masukkan ke mobil. Ijsel, kotak cat, jerrycan, minyak cat, semua masuk bak belakang. Kanvas saya letakkan di jok belakang.

“Wis kabeh ora ana sing ketinggalan?”
“Wis Pak”

Bapak, kedua dari kanan memangku Mbak Sri Nasti Rukmawati, di rumah kami saat masih di Jl.Pakuningratan 40, Yogyakarta. Saat itu Bapak dan Ibu Mia Bustam, ibu kandung saya, belum bercerai.


Lalu kami berangkat. Jika ke pelabuhan kapal rakyat Kalibaru, kami berangkat jam 5.30an. Jika Bapak menggambar model potret seseorang, maka keberangkatan sesuai jadual si model bisanya jam berapa. Saat itu Jakarta belum mengenal kata macet. Dari Pasarminggu Km 18,2 lokasi rumah kami yang sekitar 2km di Selatan TMP Kalibata, hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Kalibaru di kawasan Cilincing. Mungkin malah setengah jam saja. Kami menyusuri Jl.Raya Pasarminggu, di bunderan Pancoran yang ada patungnya itu memutar ke arah Timur menuju Cawang, lalu ke Utara menyusuri Jalan Bypass sampai Tanjung Priok lalu belok ke Timur. Di sebuah jalan kampung kumuh kami belok ke Utara sampailah kami di kampung nelayan Kalibaru.

Dalam perjalanan semacam itu jika ada berita menarik dan bila Bapak punya cukup uang, suratkabar Kompas dibeli dari penjual tepi jalan. Lalu saya menjalankan tugas sebagai kenek pembaca koran sebagaimana sudah saya ceritakan sebelumnya. Satu per satu judul headline maupun sub-headline saya baca. Berita sidebar pun saya baca judulnya. Karena Bapak juga sering minta dibacakan sidebar news semacam itu. Memang banyak juga berita menarik dari sidebar column.

Tugas Kenek Melukis
Banyak tugas yang harus dilakukan seorang kenek melukis seperti saya. Paling tidak jika jabatan itu untuk mengabdi pada Bapak saya, seorang S.Sudjojono. Dia memang orangnya lumayan teliti dalam urusan melukis. Tapi bagi saya tidak masalah, saya suka cara dia menjalani profesinya.

Tugas pertama saya setiba kami di lokasi melukis terbuka seperti di Pelabuhan Rakyat Kalibaru adalah menjaga mobil dengan tetap duduk di dalam mobil selama Bapak melakukan survei lokasi, sort of.  Bapak selalu melakukan survei lokasi yang dianggapnya tepat untuk melukis. Setelah didapatnya titik menggambar itu, Bapak akan meminta ijin orang sekitar untuk menggambar di lokasi itu. Lalu Bapak akan kembali ke mobil, dan mengajak saya  mengangkuti semua perlengkapan melukis. Di titik lokasi melukis saya biasanya bertanya, angle atau view mana yang akan Bapak lukis.

Obyeke kuwi, kapal-kapal kuwi, uwong-uwong sing lagi nyambut gawe bongkar-muat barang kae…” Itu obyek gambarnya, kapal-kapal itu, orang-orang yang sedang bekerja bongkar-muat barang itu…
Oke, dadi kira-kira nang kene ya Pak. Menghadap mrana?” Oke, jadi kira-kira di sini ya Pak. Menghadap ke sana
Iya…mengko tak penerke nek ora pas” Iya,… nanti saya perbaiki posisinya jika enggak pas.

Begitulah saat titik kami sepakati, lalu saya melaksanakan tugas kedua, yaitu menyiapkan uba rampe segala hal yang diperlukan Bapak melukis. Itu antara lain mendirikan ijsel. Meletakkan kanvas pada ijsel itu. Menggelar koran bekas untuk meletakkan lap, kwas kering, dan palet. Cat tetap di kotaknya. Bapak memilih cat lalu mem-plothot-kannya ke palet. Saya pun melakukan hal yang sama pada cat yang sudah dipilih Bapak. Kaleng minyak tanah saya siapkan, lalu saya isi minyak tiga perempatnya. Lijn olie sudah di kalengnya. Bapak pun siap melukis.

Dapat dipastikan bahwa ketika Bapak melukis outdoor demikian, terjadi kerumunan masyarakat besar-kecil, ibu-ibu, bapak-bapak, dan juga anak-anak. Mereka bergerombol di balakang Bapak melihat kegiatan melukis yang dilakukannya. Ada juga beberapa anak yang narsis di view area sambil melakukan gerakan-gerakan lucu berharap mereka digambar Bapak dan masuk dalam kanvas. Mungkin mereka membayangkan melukis demikian sama dengan memotret yang sekali jepret jadi. Tapi begitulah anak-anak. Dunia mereka memang dunia bermain, hampir semua serba main-main dan bergembira, jarang yang serius. Sedangkan dunia dewasa sebaliknya, namun tidak jarang yang seperti kanak-kanak. Misalnya yang di Senayan sana, itu menurut Gus Dur. Bukan saya yang bilang!

Nah, memahami bahwa sitlok alias situasi lokasi demikian, maka tugas ketiga saya dalam proyek Bapak melukis outdoor adalah memastikan bahwa orang sekitar tidak mengganggu kegiatan menggambar Bapak dalam arti luas: menutupi area pandang, bermain dengan cat dan perlengkapan menggambar lain, atau mengajak ngobrol Bapak. Tidak jarang saya ajak anak-anak main atau ngobrol di luar area pandang, atau mengajak omong atau menjelaskan sesuatu kepada kerumununan orang dewasa di sekitar Bapak. Mereka sering bertanya banyak hal. Dan saya seolah menjadi jurubicara Bapak. Tidak jelas apa yang ada dalam pikiran Bapak selama saya melayani berbagai pertanyaan mereka.

Begitulah yang terjadi sampai kegiatan melukis selesai.

Lukisan Bapak "Kampung Nelayan Kalibaru", cat minyak pada kanvas ukuran 100 x 165. Lukisan semacam inilah hasil dari outdoor painting Bapak ke Kalibaru. Hampir pasti jika lukisan itu dibuat sampai 1973, saya adalah kenek melukisnya.


Nantikan bab berikutnya:

  • Mendongeng Untuk Model
  • Jangan Suka Berbohong
  • Terkucil Dari Lingkaran Seniman
  • Adam Malik dan Alex Papadimitr
  • Bouquet Dari Konser Bu Rose
  • Tante Dewi dan Mijn Donkere Jongen
  • Atap Sanggar Selalu Bocor
  • Pesan Bingkai dan Spanraam di Cibinong
  • Spanraam dan Kanvas
  • Lomba Menggambar Kedubes Jepang

Kisah2 Selipan

  • Sayur Asem Duapuluhlima Perak
  • Naik Bis Kota Numpang
  • Mencuri Es Krim
  • Mencuri Rambutan
  • Mencuri Wine
  • Kecap Sialan dan Suharto
  • Unit danTrotoir