<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3943919610587763341</id><updated>2011-07-30T07:36:48.438-07:00</updated><category term='nasionalisme kemerdekaan'/><title type='text'>ABANG RAHINO</title><subtitle type='html'>Stories from disaster sites</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3943919610587763341/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Abang Rahino</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04036759192291690887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3943919610587763341.post-1072907791063900873</id><published>2009-08-16T11:24:00.000-07:00</published><updated>2009-08-16T11:29:01.552-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nasionalisme kemerdekaan'/><title type='text'>NASIONALISME dan PAHLAWAN Jargon Besar Pembawa Korban Tak Bernama</title><content type='html'>Abang Rahino, 17 Agustus 2009, 01:25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang yakin bahwa semua pejuang kemerdekaan di tahun 1945 sampai 1949 memiliki cita-cita semulia sebagaimana selalu digambarkan dalam epik kemerdekaan? Siapa yang bisa menduga hati terdalam puluhan ribu anggota berbagai kelompok bersenjata yang dulu disebut laskar, di berbagai tempat, dengan rantai komando yang tak jelas? Siapa yang berani memberi jaminan sebuah substansi bungkusan cantik bernama nasionalisme, dicerna oleh puluhan ribu orang dengan kesan dan rasa yang sama agar secara bersama pula menuju ke suatu titik tujuan tertentu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman Penulis di kota (yang dulu) sejuk, Salatiga, berkisah tentang cerita perjuangan orangtua dan paman serta bibi-bibinya di tahun-tahun revolusi kemerdekaan. Mereka diajak kedua orangtua untuk mengungsi dengan berjalan kaki ke Surakarta, karena Salatiga diserbu. Tidak, Salatiga tidak diserbu NICA atau antek Belanda yang lain dan terjadi perlawanan dari para pejuang kemerdekaan RI yang heroik. Bukan, bukan itu the real story. Para “pejuang” pembela kemerdekaan RI bersenjata datang menyerbu dari berbagai arah, menjarah barang-barang, dan kemudian membakar seluruh pertokoan dan gudang-gudang di sepanjang Pecinan yang kini dikenal sebagai Jalan Jendral Sudirman. Apa salah orangtuaku, tanya sang rekan malang. Yaa… apa salah mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di Salatiga tidak sendirian. Ibunda Penulis pun mengisahkan cerita yang sama yang terjadi di berbagai kota. Dalam bukunya “Sudjojono dan Aku”, Ibu menceritakan kisah mengerikan. Sekelompok pemuda “pejuang” memberi laporan pada atasannya dalam perjalanan long march dari Jakarta ke Yogyakarta, saat mereka masih berada di sekitar Karawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Komandan, kami dapat!”&lt;br /&gt;“Dapat apa?”&lt;br /&gt;“Kompeni, Komandan!”&lt;br /&gt;“Berapa?”&lt;br /&gt;“Sekeluarga komandan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga naga,… belakangan diketahui rupanya para pemuda itu baru saja menghabisi seluruh anggota sebuah keluarga Belanda yang tampaknya hanya berstatus sebagai pegawai sebuah Perkebunan yang berarti warga sipil. Mengapa pula mereka harus dijadikan Target Operasi, termasuk anak-anak pula? Bukankah mereka tidak terkait urusan perjuangan kemerdekaan Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu tua di Rengasdengklok, Karawang bercerita lain pula kepada Penulis. Dia, yang tidak mau disebut namanya, berstatus keponakan dari pemilik rumah tempat Sukarno-Hatta disekap semalam tanggal 16 Agustus 1945 oleh para pemuda pejuang. Masih segar di ingatan sang ibu tua, betapa para pemuda bersenjata di Rengasdengklok yang entah datang dari mana, sekira setelah adzan Azhar memaksa dengan todongan senjata seluruh keluarga pamannya untuk pindah ke rumah lain. Pertanyaan “mengapa” hanya dijawab bentakan “Ada orang penting dari Jakarta yang mau tinggal di sini” Untunglah, rumah orangtua si ibu tua berjarak sekitar tigaratus meter dari rumah sang paman, maka keluarga malang itu pun tinggal sementara di rumah orangtuanya. Seluruh keluarga disekap di rumah kedua, seluruh jendela harus ditutup tirai, dan tidak boleh satu orang mengintip keluar, apalagi keluar dari rumah. Lampu-lampu di luar dan di sekitar perkampungan dimatikan paksa. Hidup jadi mencekam, terjajah di rumah sendiri. Mereka hanya mendengar deru beberapa mobil selepas Maghrib menjelang Isa. Setelah itu sunyi, gelap, mencekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengorbanan mereka tidak berhenti di sana. Puluhan tahun kemudian pemerintah menetapkan rumah sang paman menjadi cagar sejarah. Sebuah maklumat agung seolah negara mengurus segala thethek bengek urusan terkait sebuah cagar sejarah. Memang, akhirnya bertahun-tahun setelah maklumat agung itu, sesekali datang uang limabelas ribu rupiah, atau duapuluhlima ribu rupiah, sebagai “dana pemeliharaan” cagar sejarah. Padahal dengan status itu, konstruksi rumah tidak boleh dirubah, posisi perabot harus sama dengan 16 Agustus 1945 dan dilarang untuk diganti pula, yaaah pada intinya kembali terjajah di rumah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari mana uang beberapa peser itu datang?” tanya Penulis&lt;br /&gt;“Kelihatannya dari Sekretariat Negara” sang keponakan polos menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa di antara pembaca yang pernah mendengar nama John Lie? Penulis hampir pasti, hanya sedikit yang mengetahui siapa dia. John Lie adalah seorang perwira TNI AL kelahiran Manado sejak jaman perjuangan kemerdekaan yang sangat lihai mengendalikan kapal yang dikomandaninya, bernama lambung Outlaw. Dengan kapalnya itu, ia berhasil mengamankan perdagangan hasil bumi Indonesia untuk dijual ke Singapura di tengah blokade pelayaran oleh Belanda yang sangat ketat. Kembali dari Singapura ia menyelundupkan senjata untuk dipergunakan oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia juga berjasa sebagai komandan kapal perang ‘Rajawali’ dalam operasi militer untuk menumpas pemberontakan RMS dan Permesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gegap gempita gerakan reformasi di bulan Mei 1998 melahirkan apa yang oleh Presiden BJ Habibie saat itu disebut sebagai ‘para pahlawan reformasi’ dari kalangan mahasiswa yang gugur diterjang peluru entah yang tersalak dari senapan siapa dan dari kesatuan mana. Di berbagai panggung publik di ranah politik, sosial, militer dan ekonomi, lahir “tokoh-tokoh besar” yang dianggap sebagai pendorong kelahiran sebuah rejim baru bertajuk Orde Reformasi. Janji demokratisasi dikumandangkan, dan langkah-langkah drastis nan cepat berpacu mengejar sang Dewi Demokrasi. Para “pahlawan dadakan” itu yang kini sudah duduk di kursi empuk berbagai jabatan, entah eksekutif, legislatif, atau pengurus LSM mentereng nan berdasi dan bermobil mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik itu semua, entah berapa ribu orang mati terpanggang tanpa nama, entah berapa ratus atau ribu jumlah perempuan teperkosa secara jahanam dan sampai kini masih ada yang harus hidup di bawah bimbingan kejiwaan karena tergoncang trauma nan berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ranah ekonomi, sains, dan iptek, berapa ribu manusia Indonesia berjasa, berjuang bahkan sampai tewas mengenaskan seperti David di Singapura belum lama ini. Apakah kita pernah mendengar nama Soedarpo, Hasyim Ning, Gobel, Haji Kalla, Bakrie Sr, Soedjatmaka. Nama-nama yang sejatinya pernah mengharumkan nama Indonesia sehingga dihormati di kancah internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Manakah Sang Pahlawan?&lt;br /&gt;Semua kisah, minus para “tokoh besar” di Orde Reformasi adalah nama yang tidak pernah kita dengar, atau jika terdengar hanyalah sayup-sayup di kejauhan. Bersama ribuan nama lain, mereka dianggap tak pernah ada. Berlaksa nama tak disebut bukan saja di lembar sejarah, namun bahkan di sekitar tempat tinggal mereka. Pelajaran Sejarah Nasional dari kelas satu hingga kelas duabelas, hanya sibuk mengumbar nama-nama “pahlawan besar” tanpa ulasan kritis mengapa misalnya, Diponegoro mengangkat senjata melawan Belanda.&lt;br /&gt;Namun ribuan nama tak disebut itu telah mengorbankan nyawa, harta, tenaga, demi sebuah perjuangan kemerdekaan. Sebuah cita-cita besar sebuah bangsa besar.&lt;br /&gt;Pahlawan,…kamu yang terserak dari Salatiga sampai Manado, dari Aceh sampai Merauke, dari suku Tionghoa sampai keluarga Belanda di Karawang, kalian telah ditakdirkan sebagai Pahlawan bunga bangsa. Biarkan jika bangsa ini tak mengenal dan mengakui kalian, bahkan menyebut pun enggan. Biarkan, biarkan dan biarkan. Karena kepahlawanan bukanlah tanda jasa, bukan pula persemayaman di Taman Makam Pahlawan, atau secarik Keputusan Presiden tentang seorang pahlawan. Kepahlawanan adalah jiwa yang bebas untuk berpikir merdeka dan memerdekakan. (Abang Rahino, bisa dihubungi di sanggarkertas@gmail.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3943919610587763341-1072907791063900873?l=abangrahino-rahino.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/feeds/1072907791063900873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/2009/08/nasionalisme-dan-pahlawan-jargon-besar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3943919610587763341/posts/default/1072907791063900873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3943919610587763341/posts/default/1072907791063900873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/2009/08/nasionalisme-dan-pahlawan-jargon-besar.html' title='NASIONALISME dan PAHLAWAN Jargon Besar Pembawa Korban Tak Bernama'/><author><name>Abang Rahino</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04036759192291690887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3943919610587763341.post-3470634505662180511</id><published>2009-03-22T16:46:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T16:51:19.075-07:00</updated><title type='text'>CIDERA PADA CITRA SANG PENCIPTA</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_gGpWvxHjr8c/ScbOy-OmbzI/AAAAAAAAABo/02LTLLzTcxI/s1600-h/Dead+body+on+its+3rd+day.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316163785250467634" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_gGpWvxHjr8c/ScbOy-OmbzI/AAAAAAAAABo/02LTLLzTcxI/s320/Dead+body+on+its+3rd+day.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Mayat dalam kantong jenasah ini sudah tiga hari tergeletak di tepi jalan di 17th Street Sinkor, Monrovia.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Monrovia, 21/3/09. Uriah, petugas Satpam kantor saya di PDA Liberia berpenampilan lain pagi ini. Ia menutup separuh wajahnya di sebatas hidung ke bawah dengan sweater kumalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hi, bagaimana kabarmu Uriah pagi ini”&lt;br /&gt;“Baik, Pak. Saya berharap malam Anda juga terasa nyaman…”&lt;br /&gt;“Tapi kamu tampak tidak sehat, kepala kamu dibalut kain begitu. Kamu sakit?”&lt;br /&gt;“Ah enggak, Pak. Tapi seluruh wilayah sini bau bangkai. Itu lho, dari jasad pencuri yang empat hari lalu dikeroyok massa”&lt;br /&gt;“Lho, jadi polisi belum mengambil jenasah itu dan menguburkannya? Kata kamu setelah tiga hari polisi akan mengambilnya. Twain, Prince, Emmanuel, Pete, dan Mr.Vordier Zor tetangga sebelah itu juga bilang begitu. Tapi ini sudah lima jam lewat dari empat hari!”&lt;br /&gt;“Nggak tau tuh. Mungkin polisi membiarkan, agar penduduk sini yang menguburkannya, dan duit penguburannya mereka makan sendiri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencuri malang itu memang empat hari lalu meninggal dikeroyok massa. Kira-kira jam dua atau tiga pagi hari, saya memang sedikit terbangun dengan hiruk pikuk keramaian yang tiba-tiba terjadi di jalanan. Namun karena memang saya tipe penidur lelap, maka dalam hitungan detik saya kembali tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya bangun dan menyiapkan sarapan, lalu memberikan segelas susu coklat pada petugas Satpam, saya bertanya pada dia ada apa gerangan di jalanan kok ramai sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada mayat pencuri Pak, tuh di sudut luar pagar kita. Tadi pagi dikeroyok massa dan mati”&lt;br /&gt;“Ooo… jadi itu toh ramai-ramai pagi tadi. Saya mendengarnya tapi tak peduli dan tidur. Polisi sudah datang?”&lt;br /&gt;“Belum semua, tapi sudah ada seorang reserse polisi Liberia yang berjaga-jaga. Polisi UNMIL&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; akan datang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, beberapa saat kemudian berdatangan delapan mobil-mobil besar bercat putih bertanda UN masing-masing berisi seorang anggota polisi UNMIL. Hmm… betapa borosnya, maklum seperti kebiasaan polisi di AS. Indonesia jauh lebih efisien, cukup dengan satu mobil Toyota Kijang 1.800cc berisi delapan reserse, urusan beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para polisi UN itu petentang-petenteng, motret kiri kanan, dan melakukan identifikasi mayat. Kemudian membungkusnya dengan kantong mayat warna putih. Lalu mereka pergi dan meninggalkan sang mayat malang di tepi jalan yang berumput, persis di lokasi mayat itu ditemukan. Lho?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur Aneh&lt;br /&gt;Sore harinya, Emmanuel Sackie, Kepala Satpam tugas jaga malam di kantor kami. Dia cerita jika mayat sang pencuri masih tergeletak di sudut luar pagar kantor, terbungkus kantong mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, jadi tadi pagi waktu mereka meninggalkannya di sana, belum juga diambil sampai sekarang?”&lt;br /&gt;“Yaah, memang begitu prosedurnya, Pak. Mereka membiarkannya sampai tiga hari”&lt;br /&gt;“Lha kan membusuk”&lt;br /&gt;“Nggak juga, mereka menyiram dan menyuntikkan bahan kimia, jadi tidak membusuk selama tiga hari itu”. Formalin-kah cairan itu, tidak tahu saya.&lt;br /&gt;“Maksudnya apa? Kan kasihan si mayat itu, karena betapa pun dia ‘kan manusia yang harus kita hormati”&lt;br /&gt;“Tapi itulah prosedur di seluruh Liberia sejak dulu, Pak. Polisi membiarkannya selama 72 jam, siapa tahu ada keluarga yang merasa kehilangan anggotanya mengidentifikasi mayat tersebut. Kepada mereka diberi hak untuk membawa mayat itu untuk dikuburkan secara layak”&lt;br /&gt;“Lho kok aneh ‘sih… Bukankah tugas negara untuk mengurus mayat tak dikenal. Di negeri saya, polisi langsung membawanya ke rumahsakit, meminta RS itu melakukan autopsi lalu menyimpannya di lemari pendingin mayat. Kemudian mereka mengadakan konperensi pers tentang ditemukannya mayat itu, dan mempersilakan pihak-pihak yang kehilangan anggota keluarga agar datang ke rumahsakit untuk mengidentifikasi mayat tersebut. Jika memang anggota mereka, maka mereka harus lapor ke polisi untuk bisa membawa pulang mayat itu untuk dikuburkan dengan layak. Tapi jika tidak ada yang meng-klim mayat itu, maka pihak rumahsakit akan menyerahkannya pada Fakultas Kedokteran universitas terdekat, untuk dijadikan bahan praktek laboratorim forensik”&lt;br /&gt;“Waah, itu ide bagus! Tapi mungkin rumahsakit kami tidak punya lemari pendingin mayat, hmm… dan nggak tau ya apakah di negara kami ada Fakultas Kedokteran. Tidak tahu saya”&lt;br /&gt;“Ah mudah saja bikin alat pendingin semacam itu. Pada prinsipnya beberapa sistim lemari es di-bijnding&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; juga bisa jadi” kata saya sedikit sok berteori teknis karena saya mulai merasa kesal dengan sistim tidak manusiawi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Penimbunan Sampah?&lt;br /&gt;Dengan mengabaikan betapa tidak manusiawinya prosedur di Liberia ini, tetapi pagi ini sudah 101 jam setelah sang pencuri malang dibunuh massa. Bukankah seharusnya 72 jam? Dia masih tergeletak di sana walau dibungkus kantong mayat. Bau menyengatnya sudah menembus kantong mayat yang hanya ditutup dengan ritsleting panjang, dan mulai mengganggu lingkungan. Uriah sudah menutup separuh mukanya dengan sweater kumalnya. Dari kamar guesthouse saya yang tertutup rapat dan berpengatur suhu udara, bau itu tidak tembus. Namun ketika saya keluar di halaman, kombinasi antara bau formalin dan membusuknya tubuh memang terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya terbawa ke tanggal 2 Januari 2005 ketika pertama kali saya menginjak Banda Aceh. Bedanya, di sana saya menyaksikan ribuan mayat baik di kantong mayat ataupun yang masih terbuka terserak di mana-mana karena tsunami. Saat itu saya tidak bertugas sebagai relawan perawat mayat, namun melakukan network assessment untuk program tanggap bencana oleh MCC. Di sudut pagar luar kantor saya pagi ini di Liberia, hanya ada satu mayat, juga terbungkus kantong. Tetapi setting-nya berbeda. Jika di Banda Aceh para relawan dari PMI, Karang Taruna, TNI, Polri, dan elemen masyarakat lain sudah bekerja keras sampai overwhelmed memakamkan puluhan ribu jasad itu dengan layak – walau berbagai kalangan terutama dari P.Jawa/Jakarta banyak yang mencaci tentang penanganan pembersihan Banda Aceh&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; - di sini di negara gurem si Liberia ini, negara punya legitimasi untuk bertindak amoral, asusila, dan tidak tahu apa lagi yang harus saya katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi lebih geram lagi saya, setelah pagi ini Prince Toe, salah seorang staf kantor kami datang. Dia bertemu dengan petugas MCC (Monrovia City Council) yang menanyakan di mana lokasi mayat pencuri berada. Prince menunjukkannya. Petugas itu bercerita pada Prince bahwa siang ini mereka akan mengangkut mayat itu untuk dikubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baguslah jika demikian. Di pemakaman mana mereka akan menguburkannya?”&lt;br /&gt;“Ah, nggak di pemakaman Pak. Mereka akan menggali tanah di penimbunan sampah, dan melemparkan kantong itu ke sana lalu menimbunnya”&lt;br /&gt;“Hah? Jadi tidak dimakamkan di pekuburan? Kamu yakin jika mereka akan melakukannya demikian?”&lt;br /&gt;“Yaah, memang dari dulu-dulunya juga begitu, Pak”&lt;br /&gt;“Tempo hari kamu bilang polisi akan mengangkutnya dan menguburkannya”&lt;br /&gt;“Mungkin saya salah cerita barangkali”&lt;br /&gt;“Uedan tenan pemerintah kamu itu, Prince. Kamu harus tahu, betapapun dia itu pencuri, tetapi dia kan manusia juga. Dia jadi pencuri bukan atas kemauannya sendiri, tetapi karena terpaksa. Mungkin bininya mau melahirkan tetapi tidak punya uang. Atau anaknya sakit, atau harus bayar utang. Kita harus sadar bahwa manusia itu diciptakan secitra dengan Allah, dengan demikian memiliki modal sosial yang terbangun baik dalam dirinya. Jika ia jadi jahat, itu pasti karena lingkungan. Oleh karenanya lingkungan harus ikut bertanggung jawab. Lha negara kamu itu termasuk pemerintahnya, sudahlah brengsek, tidak mau ngurusi masyarakatnya lagi! Buat apa kalian menggaji mereka dengan pajak dan sumber-sumber milik kalian!? Kudeta saja mereka dan cari orang sing rada nggenah!” (Saya mengatakan tiga kata terakhir betul-betul dalam bahasa Jawa itu, yang berarti “yang lebih baik”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You said, Sir?”&lt;br /&gt;“Find your better leaders to manage your country!”&lt;br /&gt;“We’ll do, Sir, another two years. For sure, we’ll find them”, Prince tulus mengatakannya, agaknya dia benar-benar tercerahkan betapa para pemimpinnya adalah kumpulan orang-orang brengsek. Saya berharap kelak ada ribuan orang semacam Prince di Liberia sehingga para politisi di negeri gurem ini tidak keblinger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah saya jadi uring-uringan bikin dosa pada orang yang tidak layak menerima cercaan saya. Apalagi memprovokasi untuk melakukan kudeta, wah bisa diekstradisi nih saya! Minta ampun Tuhan atas dosa saya yang satu ini. Tapi paling tidak Prince tercerahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah, you are right Pak Abang! I got your idea! Iya betul, Alkitab bilang begitu ya, kita secitra dengan Allah, yaa betul ada di Kejadian 1 ayat 1”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan di sana, tapi di bagian lain sesudah itu walau saya tidak ingat di mana!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya, oke, mungkin nggak di sana, tetapi saya ingat ada di Alkitab, Kejadian, masih di buku satu. Anda betul, Pak. Kita harus menghormati dia walau dia pencuri ya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Liberia?&lt;br /&gt;Hmm… saya juga merasa berdosa lagi ketika saya sadar, bahwa seolah saya menceritakan tentang sistim dan perilaku yang dibangun bangsa Indonesia sudah sempurna. Padahal jamak kita dengar bahwa pencuri ayam atau jemuran mati naas dikeroyok massa. Atau penjahat atau yang dianggap penjahat disuruh pergi polisi namun kemudian ditembak untuk membuat “bukti” bahwa si penjahat mencoba melarikan diri. Bukankah praktek-praktek semacam itu terjadi juga di tengah bangsa kita? Atau praktek di AS yang cenderung mencari kambing hitam di antara masyarakat Afrika-Amerika saat terjadi peristiwa kriminal di tengah masyarakat.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Begitulah manusia, ketika kita masih menganggap bahwa kekuasaan (baca: sumber utama) yang menjadi komoditas paling berharga di antara berbagai resources umat manusia itu adalah entitas milik kita sendiri, maka jangan pernah kita bermimpi sekalipun tentang terciptanya suasana damai. Termasuk berdamai dengan kriminal walau sekedar memperlakukan mereka sebagai manusia yang bermartabat karena secitra dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; United Nations’ Mission on Liberia, misi perdamaian dan rekonstruksi PBB untuk Liberia sejak 2004 setelah negeri ini terbebas dari tiga kali perang saudara berturut-turut sejak 1980.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Bijnding (baca “beindeng”: dijadikan satu dalam satu ikatan sistim (Bhs.Belanda)&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Biasalah, mungkin mereka adalah para pengamat kedodoran, dan pihak-pihak yang saat itu belum mendapat proyek. Tetapi setelah BRR berdiri dan kue dibagi-bagi, semakin sedikit tuh yang cerewet, mungkin karena sedang rame2 makan kue BRR!&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Komunitas sosialis Kristen Bruderhoff pernah melakukan advokasi dan mendorong dibebaskankannya Mumya Abu Djamal, seorang Afrika-Amerika yang dituduh melakukan pembunuhan dan menunggu hukuman mati, walau bukti-bukti baru menunjukkan bahwa dia sekedar kambing hitam. Peristiwa semacam kasus Mumya Abu Djamal ini jamak terjadi, kata Reuben Ayala, Direktur Advokasi Hak Asasi Manusia Komunitas Bruderhoff, dalam sebuah wawancara dengan Penulis.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3943919610587763341-3470634505662180511?l=abangrahino-rahino.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/feeds/3470634505662180511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/2009/03/cidera-pada-citra-sang-pencipta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3943919610587763341/posts/default/3470634505662180511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3943919610587763341/posts/default/3470634505662180511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/2009/03/cidera-pada-citra-sang-pencipta.html' title='CIDERA PADA CITRA SANG PENCIPTA'/><author><name>Abang Rahino</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04036759192291690887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gGpWvxHjr8c/ScbOy-OmbzI/AAAAAAAAABo/02LTLLzTcxI/s72-c/Dead+body+on+its+3rd+day.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3943919610587763341.post-6290551020080677476</id><published>2009-03-19T14:46:00.000-07:00</published><updated>2009-03-19T15:11:03.750-07:00</updated><title type='text'>Liberia Program, an Initiative for a Global Network</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_gGpWvxHjr8c/ScLAOasQeNI/AAAAAAAAAAM/_WqqY9dudzk/s1600-h/10.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315021864166258898" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_gGpWvxHjr8c/ScLAOasQeNI/AAAAAAAAAAM/_WqqY9dudzk/s320/10.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;The gas station outlook mostly in Liberia (photo: A.Rahino)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abang Rahino Journal #1&lt;br /&gt;Monrovia, 3 February, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Liberia at a Glance&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;You probably refer to thousands of ships around the world which raise Liberia flag as their registered identity. The West African country is notably being the oasis for ship owners throughout the world – including Indonesia my home country – to register their vessels. Ease is the spirit that Liberian government tries to introduce to the entire world for many years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Despite Liberia gets lots of tax from those vessel registrations, even though the resources they have are including diamond, iron ore, and recently an expedition identified a large number of offshore oil resource, and the land granted to them just as fertile as Indonesians have, but the following information makes me wonder, what kind of catastrophe which Liberians suffered from recently.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The IMR&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; of Liberia is 143.89 deaths/1,000 live births, PLWHA&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; is 100,000 while those who died from AIDS were 7,200 in 2003 and HIV adult prevalence rate is 5.9%. My contact for HIV/Aids program in Papua, Indonesia told me that the official figure in HIV/Aids issue is in fact a tip of an iceberg. Liberia population is only 3.38 million though, not even more than Yogyakarta, my hometown in Indonesia which has 3.5million people. The Liberian human life expectancy is 41.13 years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As you walk down the roads in Monrovia in the morning of 7:15am, small boys and girls take bath outdoors with pail of water. Public sanitation is on its lowest grade I’ve ever seen. Many shops owners prepare their small China made generators before they start their businesses, as electricity already gone at 7am and will just on at 7pm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Learning how poverty exists deeply on Liberia community, I can parallel it with Indonesia situation under the Japanese occupation in 1942-1945. The difference is that through 1970 were only few Indonesians had cars. It was until the beginning of 1960s that most of Indonesians rode on bicycles not even motorcycles. I bought my own first old-used Italian scooter in 1994 after being a church worker for 15 years! I then replaced to another Italian used scooter in 1998 from my office, a Canadian/US based INGO working in Indonesia. But in Liberia, on the midst of such poverty, cars considered luxury types in Indonesia such as BMW, Mercedes, American sedans and MPV as well as all types from Japan and Korea are everywhere. All with their two liters of engine or more, and are fully built up imported. The public transportation system is poor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The two pictures of poverties i.e. Liberia and Indonesia in two different periods of time but in paradox conditions, showing me difficult questions to answer on the why aspect. So let’s just leave the why aspect, for I’ve just been on my 11th day in Liberia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Went Through on Civil Wars&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;One of the possible reasons of what Liberians suffered this time is their long several different civil wars since 1980 which finally ended on 2003. Even though the casualties were not as dramatic as Indonesia’s bloodiest event in 1965-1966 which left dead toll to almost three million people as what Sarwo Eddie Wibowo – an Indonesia’s Army Special Squad Commander said ( Memoar Pulau Buru, by Hersri Setiawan), but Liberian civil wars’ brutality buried down almost all of their people social and economical capitals.&lt;br /&gt;Liberia, which means "land of the free," was founded by free African-Americans and freed slaves from the United States in 1820. An initial group of 86 immigrants, who came to be called Americo-Liberians, established a settlement in Christopolis (now Monrovia, named after U.S. President James Monroe) on February 6, 1820.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thousands of freed American slaves and free African-Americans arrived during the following years, leading to the formation of more settlements and culminating in a declaration of independence of the Republic of Liberia on July 26, 1847. The drive to resettle freed slaves in Africa was promoted by the American Colonization Society (ACS), an organization of white clergymen, abolitionists, and slave owners founded in 1816 by Robert Finley, a Presbyterian minister. Between 1821 and 1867 the ACS resettled some 10,000 African-Americans and several thousand Africans from interdicted slave ships; it governed the Commonwealth of Liberia until independence in 1847.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joseph Jenkins Roberts, who was born and raised in America, was Liberia's first President. The style of government and constitution was fashioned on that of the United States, and the Americo-Liberian elite monopolized political power and restricted the voting rights of the indigenous population. The True Whig Party dominated all sectors of Liberia from independence in 1847 until April 12, 1980, when indigenous Liberian Master Sergeant Samuel K. Doe (from the Krahn ethnic group) seized power in a coup d'etat. Doe's forces executed President William R. Tolbert and several officials of his government, mostly of Americo-Liberian descent. One hundred and thirty-three years of Americo-Liberian political domination ended with the formation of the People's Redemption Council (PRC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since that 1980 coup, Liberian plunged into deep sufferings caused from one civil war to another. After several different international interventions through ECOWAS&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; and the UN, the civil wars ended in 2003. Under a strong intervention of UNMIL&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;, Liberia gradually gains stability, and have energy to develop itself, when finally at the end of 2005 a democratic election was held. A first woman African president was elected, Mdm.Ellen Johnson Sirleaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Her leadership were applauded by many parties both internally and internationally. A local RTV television station broadcasted two days after the event, exposed on how none of their interviewees including diplomatic corps members dissatisfied with what Mdm.Sirleaf already done on her first three year assignment as the President of the ex torn country. The interviews addressed to the President’s annual speech to the House of Parliament, carried out on January 26, 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;An Initiative for a Global Network&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;On the mid of such a condition of Liberia, through YEU&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;, an Indonesia NGO specifically working on disaster response, PDA&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; invited me to be their interim Program Coordinator/Representative for Liberia Project which mainly carries out a single psychosocial program for Liberian ex-combatants. My main duty is to suggest an exit strategy as the UNDP funded program will be terminated on March 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As almost the first two weeks learning the program supervised by Luke Asikoye, the Director of International Disaster Response of PDA, as well as working together with a small team of local staffs in Monrovia, we explore to a suggestion of an exit strategy which include an exchange with Acehnese ex-combatants in Indonesia, and also post monitoring program which include peacebuilding and income generating programs. Even though we still need to explore deeper on the details, it seems to us that those choice will be the best for the Liberian ex-combatants in exploring their paths for their future lives.&lt;br /&gt;The idea is also exploring an initiative of a global network which includes relations between Northern and Southern countries, and at the same time creating Southern-to-Southern relationship. May the Lord who has the world as His field, He himself be in front of the initiative&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; ECOWAS: Economic Community of West African States&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; UNMIL: United Nations Mission in Liberia&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Yakkum Emergency Unit&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Presbyterian Disaster Assistance&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; IMR: Infant Mortality Rate&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3943919610587763341#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; PLWHA: People Living with HIV/Aids&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3943919610587763341-6290551020080677476?l=abangrahino-rahino.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/feeds/6290551020080677476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/2009/03/liberia-program-initiative-for-global.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3943919610587763341/posts/default/6290551020080677476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3943919610587763341/posts/default/6290551020080677476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/2009/03/liberia-program-initiative-for-global.html' title='Liberia Program, an Initiative for a Global Network'/><author><name>Abang Rahino</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04036759192291690887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gGpWvxHjr8c/ScLAOasQeNI/AAAAAAAAAAM/_WqqY9dudzk/s72-c/10.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3943919610587763341.post-5963794965842330922</id><published>2009-03-19T14:18:00.000-07:00</published><updated>2009-03-19T14:32:25.300-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Liberia Nan Merana&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Monrovia, minggu kedua Feb, 2009) Negeri ini benar-benar remuk. Saya tidak bisa membayangkan saat terjadi perang saudara selama 14 tahun yang berturut-turut. Korban 'sih "hanya" 200an ribu orang meninggal dan beberapa ratus ribu lain menjadi pengungsi internasional maupun IDP. Seorang staf saya yang pernah pacaran dengan anak Presiden Taylor - salahseorang pemimpin kudeta - dia pernah disekap oleh calon mertuanya itu. Di lingkungan istana ia disiksa dengan berbagai cara termasuk meneteskan lelehan tas plastik yang dibakar di sekujur tubuhnya. Keponakannya dipaksa menyaksikan ibunya yang sedang mengandung (maaf) dibelah perutnya dengan bayonet, keponakan yang sama juga dipaksa nonton pamannya yang lain disiksa dengan cara ditoreh-toreh dadanya hingga berdarah-darah. "Kalau hanya pemerkosaan 'sih jamak dilakukan di mana-mana. Teman sekolah saya diperkosa bergantian oleh duapuluh tentara dalam tempo beberapa saat saja", kata staf saya yang saya sembunyikan namanya ini. Saya pikir - paling tidak saat terjadi perang saudara - bangsa ini memang berperadaban lumayan rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bangsa Indonesia Pun Demikian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkin saya tidak adil berkata demikian, karena bangsa kitapun juga mengidap split personality. Dalam pergaulan, kita berperangai santun sehingga sangat bangga dengan hospitality khas ketimuran kita sampe jadi iklan segala, tapi lihatlah saat terjadi konflik. Entah di Poso, Ambon atau di Jawa, baik yang Kristen maupun yang Muslim, atau yang Hindu di Bali sekalipun, brutalitas juga ditunjukkan tuntas. Itu terjadi sejak jaman Mataram Purba (Hindu), Sriwijaya, Majapahit, Kediri, Demak, Mataram Islam, jaman Republik. Atau tidak usahlah jauh2 menunggu konflik dengan kekerasan, lihatlah cara kita berkendara di jalan raya: brutal, riuh rendah ribut membunyikan klakson, tidak sabaran dan nyaris semaunya. You are the way you drive, itu kata saya bukan kata orang bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kadar yang "lebih halus" tetapi tetap berkategori pembunuhan dan penyiksaan yang kejam, adalah perlakuan tidak semena-mena pemegang kebijakan terhadap masyarakatnya. Perlakuan ini bisa bersifat kebijakan, politik kekuasaan, perilaku, black mail, tindakan, konspirasi, dan tindakan-tindakan tak terpuji yang ternyata merebak nan merata terjadi pada siapapun. Pada bangsa kita, ini terjadi di hampir semua lini masyarakat: lembaga kenegaraan dan pemerintahan, kalangan LSM, lembaga keagamaan termasuk lembaga gereja dan perilaku para pemimpin atau jemaatnya. Bernada pesimis? Tidak juga, karena penulis masih banyak melihat mereka yang jernih, walau mereka semakin tersisih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kekumuhan Itu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Liberia, di seluruh bagian ibukota Liberia, Monrovia, kekumuhan terjadi di mana-mana. Bahkan "istana" kepresidenan dan gedung parlemen yang dinamai Capitol Hill sekalipun juga kumuh. Kekumuhan itu masih dibumbui dengan bau busuk menyengat di mana-mana entah datang dari mana, sama dengan bau Kali Banger kalau di Semarang atau Gunung Sahari di ujung Utara yang sudah mendekati Ancol itu jika di Jakarta, namun tingkat kekumuhan dan kebauannya berlipat. Betul-betul disgusting. Maaf di Salatiga atau Yogyakarta tidak ada contohnya! Tanah Liberia berlumpur, sehingga menjadi sangat halus saat musim panas yang jatuh bulan Oktober-April, mirip di Jakarta di medio tahun 1960an. Sehingga debu sangat memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekumuhan ini ditambah dengan kondisi fisik orang Liberia. Saya 'sih tidak bermaksud SARA dan tidak ada masalah dengan warna kulit yang hitam walau legam sekalipun, karena sayapun berkulit gelap ^..^, tapi sanitasi tubuh yang sangat tidak terjaga plus cara masak dan cara makan mereka baik yang educated apalagi yang tidak sempat mengenyam pendidikan, sungguh pemandangan yang mengerikan. Untuk pertama kali dalam hidup, saya menjadi paranoid terhadap lingkungan. Air mandi saya sirami Dettol sampai sering kebanyakan, tangan selalu saya basuh dengan semacam Antis setelah bersalaman dengan orang; jika harus makan di luar saya sama sekali tidak mau makan di restoran atau cafe yang bersifat lokal dan hanya mampir ke restoran2 yang didatangi orang-orang PBB atau INGO, yang minta ampun mahalnya; badan yang ter-exposed selalu saya lumuri obat nyamuk cair karena wabah malaria merebak disebabkan genangan2 rawa di berbagai tempat; saya tidak berani beli buah-buahan segar yang sebetulnya di jual di pasaran; Jika mau masak pun saya beli sayur kering bungkus buatan Lebanon; saya juga tidak makan daging, karena tidak jelas si daging datang dari mana, halal atau tidak...hehehe!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, Liberia adalah lokasi tepat untuk latihan survival bagi para pegiat disaster response, serius! Karena dalam kondisi sudah aman seperti sekarang dan setelah diurusi PBB melalui misi UNMIL-nya sejak tahun 2003, kondisi Liberia masih disastrous, kira-kira sama dengan Banda Aceh tepatnya di kawasan Uleleue dan Peunayeung di minggu ketiga-keempat Januari 2005. Kekumuhan barak di mana saya tidur bersama mas Agung di bulan Januari 2005 di depan Puskesmas hmmm...apa nama daerah itu, Posko YEU kedua setelah posko tenda di Blang Bintang itu, tidaklah sebanding dengan kekumuhan di Monrovia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks yang demikian Liberia menjadi penuh pesona. Survival,... hmm bukankah itu kegiatan menantang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak produk Indonesia terdapat di sini, seperti SoKlin, Indomie, barang2 elektronik seperti PC yang saya pakai ini bermerk Dell buatan Indonesia, atau Toyota Corona buatan Indonesia. Produk2 Tiongkok lebih membludak. Tidak usah tanya harga di Liberia, karena cost of living di Liberia nyaris sama dengan di AS. Harga Indomie setara Rp 16.650 sebungkus, makan di resto yang bersih minimal Rp 199.800 jika makan nasi. Paling murah spagheti bolognese, nah karenanya saya selalu makan itu karena "hanya" Rp 111.000 seporsi. Sejam di warnet bayar Rp 16rb. Anehnya harga mobil relatif murah, entah politik ekonomi apa yang diterapkan Liberia yang pasti diajari oleh PBB yang disetir oleh negara2 kuat tertentu. Tipe MPV seperti Cherokee atau Blazer brand new hanya sekitar Rp70jutaan. Mobil2 bekas tapi masih bagus semacam BMW atau Mercedes tipe empat lima tahun lalu, paling2 Rp 45-60jt.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaku bisnis sektor riil mayoritas masyarakat India, Libanon dan Tionghoa. Konon ada beberapa orang Indonesia tapi saya belum berjumpa dengan mereka. Masyarakat setempat lebih memilih jadi buruh kasar ( karena terpaksa ), white collar worker/PNS yang mengenyam pendidikan, atau bahkan banyak yang lebih suka menganggur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nilai Keluarga dan Perilaku Seksual&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Saya yakin walau belum membuktikan, bahwa bangsa Liberia juga memiliki nilai keluarga yang luhur. Namun keyakinan itu terus terang terganggu dengan pandangan beberapa orang ( namun banyak, termasuk dari kalangan gereja ), dan juga perilaku yang saya saksikan sendiri, terkait dengan hubungan seksual. Di sini lumayan biasa pria beristri mempunyai WIL yang "setengah resmi" hidup bersama di rumah lain. Itu terjadi juga di kalangan pejabat institusi gereja. Salahsatu teman saya yang bermaksud baik hati agaknya pernah akan menjamu saya dengan seorang gadis. Di jok belakang mobil dinas saya, secara demonstratif seorang gadis Afrika yang seronok telah duduk di bagian tengah jok cenderung dekat ke saya. Saat itu saya dijemput sopir untuk makan malam. Dari cara omong dan cara pandang si gadis, tanpa harus merasa GR saya yakin ia "dipasang" untuk saya malam itu. Ketika kembali dari resto dan si gadis malang juga turun, saya tanya apakah dia akan tidur di hotel ini juga kok ikutan turun, dia agak grogi tidak menjawab. Teman saya yang bermaksud baik hati tadi langsung menyela: "It's ok then, she'll leave..." Teman lain juga berusaha "mengenalkan" saya ke perempuan lain lagi dengan mengatakan: "Beberapa ladies tetangga kantor kamu tanya kamu tuh. Kata mereka, siapa tuh laki-laki muda dari Middle East yang tinggal di kantor itu. Mereka pengin jadi ladies kamu lho" rupanya saya dikira juragan minyak dari Timur Tengah, disangka masih muda lagi! Padahal saya tahu persis nggak ada tetangga perempuan di sekitar kantor saya kecuali kantor lain, bengkel mebel, dan warung. Oh ada memang, tapi perempuan tua renta, jangan2 dia yang dimaksud teman saya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pejabat UNMIL dan INGO yang tinggal di guesthouse waktu saya belum pindah ke guesthouse kantor, juga tinggal bersama para perempuan Liberia. Bahkan ketika masih transit di Accra, Ghana selama dua hari sebelum terbang ke Monrovia tanggal 24/1, seorang salesman berkebangsaan Inggris dari Birmingham penjual pompa untuk pengeboran minyak sudah promosi: "Wah,... di Monrovia banyak ladies". Ladies apa'an sih, pura2 saya tanya sembari ngetes. Kontan fasih dia menjawab: "Ya buat hidup bareng kamulah sementara jauh dari istri. Murah koq di sana" kata si salesman. Ck ck ck ck... sedemikiankah isu jender di Liberia terjerembab? Walau demikian setelah tiba di Liberia, saya 'sih di mana2 melihat stiker ditempel: "No help for sex. No sex for help", hmmm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Liberia yang Sangat Amerika&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tak pelak bangsa Liberia adalah bangsa Amerika. Nyaris seluruh budaya hidup mereka adalah Amerika, tapi yang bagian miskin. Walau demikian, mereka sangat PD dalam segala hal. Di sini jangan kaget jika Anda berjumpa dengan berbagai institusi dagang, sosial atau bahkan bisnis tingkat warungan yang menyandang kata "internasional". Ketika saya tanya pada staf saya apa arti kata itu, apakah benar2 berafiliasi dengan jejaring internasional, dia tertawa lebar. "Ah itu hanya supaya tampak gagah aja" katanya ringan. Banyak juga 'kan yang begituan di Amerika sana &gt; misalnya ini: World Wrestling Champion blablabla, tapi ternyata hanya peserta dari beberapa negara bagian AS yang ikutan, lalu dibuat film dan dijual ketengan ke stasion2 televisi di negara2 Selatan spt Indonesia, dan kita menikmatinya! Atau International University of America (ini sekedar misal karena saya nggak mau menyebut nama yang benar2 ada), tapi sebetulnya hanya jual ijasah melalui internet. Anda mau S2 atau Ph.D, tinggal pilih saja, "resmi" ada ijasahnya, masing2 ada harganya. Nggak mahal amat koq!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kere ning pedhe" itu kata orang Yogya ( = miskin tapi PD ), ucapan itu sangat pas ditimpakan pada orang Liberia. Walau rumah dan kondisi kwalitas hidup manusia mereka sangat rendah dan sangat kumuh, tapi mereka gemar hura-hura. Minuman beralkohol jamak dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat kaya miskin, entah dari mana duit mereka peroleh. Hanya sedikit yang mau berkendara sepedamotor atau sepeda, mobil adalah tumpangan umum orang Liberia. Pesta walau tampak norak untuk ukuran kita, adalah bagian penting dari keseharian mereka ( dlm hal ini mungkin bngsa kita mirip ya, bukankah utang dan jual harta jamak dilakukan orang Indonesia demi pesta perkawinan misalnya? ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Walau biaya pendidikan relatif "murah" karena hanya sedikit lebih mahal dibandingkan dengan Indonesia, tapi tingkat buta huruf sangat tinggi dan pendidikan sangat rendah di Liberia. Menurut saya mungkin pemerintah Liberia harus fokus ke sektor ini, disamping infrastruktur perhubungan dan enerji. Mungkin sudah saatnya kita sesama bangsa dari Kawasan Selatan yang sudah lumayan maju dibandingkan dengan Liberia, bisa mulai memikirkan menyalurkan bantuan walau setitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prince adalah nama OB di kantor saya. Ia lulusan SLTA tipe rajin membaca. Segera setelah usai bekerja, dia duduk di meja tamu dan tekun membaca. Saat ini ia sedang membaca "Forgive for Good" karya Fred Luskin terbitan Harper. "Saya hobi musik dan sepakbola" kata Prince saat saya tanya hobinya. Kapan2 kalau sudah punya uang, ia ingin melanjutkan belajar ke Business College.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terharu mendengar tuturannya dan sangat ingin memberi beasiswa tapi sayang nggak punya duit. Bagaimana kalau kita dari Indonesia mulai membangun bantuan kecil buat orang Liberia seperti Prince melalui penyaluran beasiswa. Kita buat saja lembaga dana beasiswa Indonesia untuk Liberia. Nggak usah gedhe2 amat, cukup untuk dua tiga orang pada awalnya, asalkan bisa mengentaskan mereka 'kan akan menjadi jembatan yang baik untuk persahabatan antarbangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan sumbangkan pikiran Anda untuk ide ini. Saya yakin paling tidak kekumuhan Liberia akan terkikis saat tingkat pendidikan lebih baik.Sehingga saya akan lebih krasan tinggal di sini, hehehee...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3943919610587763341-5963794965842330922?l=abangrahino-rahino.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/feeds/5963794965842330922/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/2009/03/liberia-nan-merana-monrovia-minggu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3943919610587763341/posts/default/5963794965842330922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3943919610587763341/posts/default/5963794965842330922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abangrahino-rahino.blogspot.com/2009/03/liberia-nan-merana-monrovia-minggu.html' title=''/><author><name>Abang Rahino</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04036759192291690887</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
