Sunday, August 16, 2009

NASIONALISME dan PAHLAWAN Jargon Besar Pembawa Korban Tak Bernama

Abang Rahino, 17 Agustus 2009, 01:25



Siapa yang yakin bahwa semua pejuang kemerdekaan di tahun 1945 sampai 1949 memiliki cita-cita semulia sebagaimana selalu digambarkan dalam epik kemerdekaan? Siapa yang bisa menduga hati terdalam puluhan ribu anggota berbagai kelompok bersenjata yang dulu disebut laskar, di berbagai tempat, dengan rantai komando yang tak jelas? Siapa yang berani memberi jaminan sebuah substansi bungkusan cantik bernama nasionalisme, dicerna oleh puluhan ribu orang dengan kesan dan rasa yang sama agar secara bersama pula menuju ke suatu titik tujuan tertentu?

Seorang teman Penulis di kota (yang dulu) sejuk, Salatiga, berkisah tentang cerita perjuangan orangtua dan paman serta bibi-bibinya di tahun-tahun revolusi kemerdekaan. Mereka diajak kedua orangtua untuk mengungsi dengan berjalan kaki ke Surakarta, karena Salatiga diserbu. Tidak, Salatiga tidak diserbu NICA atau antek Belanda yang lain dan terjadi perlawanan dari para pejuang kemerdekaan RI yang heroik. Bukan, bukan itu the real story. Para “pejuang” pembela kemerdekaan RI bersenjata datang menyerbu dari berbagai arah, menjarah barang-barang, dan kemudian membakar seluruh pertokoan dan gudang-gudang di sepanjang Pecinan yang kini dikenal sebagai Jalan Jendral Sudirman. Apa salah orangtuaku, tanya sang rekan malang. Yaa… apa salah mereka?

Kisah di Salatiga tidak sendirian. Ibunda Penulis pun mengisahkan cerita yang sama yang terjadi di berbagai kota. Dalam bukunya “Sudjojono dan Aku”, Ibu menceritakan kisah mengerikan. Sekelompok pemuda “pejuang” memberi laporan pada atasannya dalam perjalanan long march dari Jakarta ke Yogyakarta, saat mereka masih berada di sekitar Karawang.

“Komandan, kami dapat!”
“Dapat apa?”
“Kompeni, Komandan!”
“Berapa?”
“Sekeluarga komandan”

Astaga naga,… belakangan diketahui rupanya para pemuda itu baru saja menghabisi seluruh anggota sebuah keluarga Belanda yang tampaknya hanya berstatus sebagai pegawai sebuah Perkebunan yang berarti warga sipil. Mengapa pula mereka harus dijadikan Target Operasi, termasuk anak-anak pula? Bukankah mereka tidak terkait urusan perjuangan kemerdekaan Indonesia?

Seorang ibu tua di Rengasdengklok, Karawang bercerita lain pula kepada Penulis. Dia, yang tidak mau disebut namanya, berstatus keponakan dari pemilik rumah tempat Sukarno-Hatta disekap semalam tanggal 16 Agustus 1945 oleh para pemuda pejuang. Masih segar di ingatan sang ibu tua, betapa para pemuda bersenjata di Rengasdengklok yang entah datang dari mana, sekira setelah adzan Azhar memaksa dengan todongan senjata seluruh keluarga pamannya untuk pindah ke rumah lain. Pertanyaan “mengapa” hanya dijawab bentakan “Ada orang penting dari Jakarta yang mau tinggal di sini” Untunglah, rumah orangtua si ibu tua berjarak sekitar tigaratus meter dari rumah sang paman, maka keluarga malang itu pun tinggal sementara di rumah orangtuanya. Seluruh keluarga disekap di rumah kedua, seluruh jendela harus ditutup tirai, dan tidak boleh satu orang mengintip keluar, apalagi keluar dari rumah. Lampu-lampu di luar dan di sekitar perkampungan dimatikan paksa. Hidup jadi mencekam, terjajah di rumah sendiri. Mereka hanya mendengar deru beberapa mobil selepas Maghrib menjelang Isa. Setelah itu sunyi, gelap, mencekam.

Pengorbanan mereka tidak berhenti di sana. Puluhan tahun kemudian pemerintah menetapkan rumah sang paman menjadi cagar sejarah. Sebuah maklumat agung seolah negara mengurus segala thethek bengek urusan terkait sebuah cagar sejarah. Memang, akhirnya bertahun-tahun setelah maklumat agung itu, sesekali datang uang limabelas ribu rupiah, atau duapuluhlima ribu rupiah, sebagai “dana pemeliharaan” cagar sejarah. Padahal dengan status itu, konstruksi rumah tidak boleh dirubah, posisi perabot harus sama dengan 16 Agustus 1945 dan dilarang untuk diganti pula, yaaah pada intinya kembali terjajah di rumah sendiri.

“Dari mana uang beberapa peser itu datang?” tanya Penulis
“Kelihatannya dari Sekretariat Negara” sang keponakan polos menjawab.

Siapa di antara pembaca yang pernah mendengar nama John Lie? Penulis hampir pasti, hanya sedikit yang mengetahui siapa dia. John Lie adalah seorang perwira TNI AL kelahiran Manado sejak jaman perjuangan kemerdekaan yang sangat lihai mengendalikan kapal yang dikomandaninya, bernama lambung Outlaw. Dengan kapalnya itu, ia berhasil mengamankan perdagangan hasil bumi Indonesia untuk dijual ke Singapura di tengah blokade pelayaran oleh Belanda yang sangat ketat. Kembali dari Singapura ia menyelundupkan senjata untuk dipergunakan oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia juga berjasa sebagai komandan kapal perang ‘Rajawali’ dalam operasi militer untuk menumpas pemberontakan RMS dan Permesta.

Gegap gempita gerakan reformasi di bulan Mei 1998 melahirkan apa yang oleh Presiden BJ Habibie saat itu disebut sebagai ‘para pahlawan reformasi’ dari kalangan mahasiswa yang gugur diterjang peluru entah yang tersalak dari senapan siapa dan dari kesatuan mana. Di berbagai panggung publik di ranah politik, sosial, militer dan ekonomi, lahir “tokoh-tokoh besar” yang dianggap sebagai pendorong kelahiran sebuah rejim baru bertajuk Orde Reformasi. Janji demokratisasi dikumandangkan, dan langkah-langkah drastis nan cepat berpacu mengejar sang Dewi Demokrasi. Para “pahlawan dadakan” itu yang kini sudah duduk di kursi empuk berbagai jabatan, entah eksekutif, legislatif, atau pengurus LSM mentereng nan berdasi dan bermobil mahal.

Di balik itu semua, entah berapa ribu orang mati terpanggang tanpa nama, entah berapa ratus atau ribu jumlah perempuan teperkosa secara jahanam dan sampai kini masih ada yang harus hidup di bawah bimbingan kejiwaan karena tergoncang trauma nan berat.

Di ranah ekonomi, sains, dan iptek, berapa ribu manusia Indonesia berjasa, berjuang bahkan sampai tewas mengenaskan seperti David di Singapura belum lama ini. Apakah kita pernah mendengar nama Soedarpo, Hasyim Ning, Gobel, Haji Kalla, Bakrie Sr, Soedjatmaka. Nama-nama yang sejatinya pernah mengharumkan nama Indonesia sehingga dihormati di kancah internasional.

Di Manakah Sang Pahlawan?
Semua kisah, minus para “tokoh besar” di Orde Reformasi adalah nama yang tidak pernah kita dengar, atau jika terdengar hanyalah sayup-sayup di kejauhan. Bersama ribuan nama lain, mereka dianggap tak pernah ada. Berlaksa nama tak disebut bukan saja di lembar sejarah, namun bahkan di sekitar tempat tinggal mereka. Pelajaran Sejarah Nasional dari kelas satu hingga kelas duabelas, hanya sibuk mengumbar nama-nama “pahlawan besar” tanpa ulasan kritis mengapa misalnya, Diponegoro mengangkat senjata melawan Belanda.
Namun ribuan nama tak disebut itu telah mengorbankan nyawa, harta, tenaga, demi sebuah perjuangan kemerdekaan. Sebuah cita-cita besar sebuah bangsa besar.
Pahlawan,…kamu yang terserak dari Salatiga sampai Manado, dari Aceh sampai Merauke, dari suku Tionghoa sampai keluarga Belanda di Karawang, kalian telah ditakdirkan sebagai Pahlawan bunga bangsa. Biarkan jika bangsa ini tak mengenal dan mengakui kalian, bahkan menyebut pun enggan. Biarkan, biarkan dan biarkan. Karena kepahlawanan bukanlah tanda jasa, bukan pula persemayaman di Taman Makam Pahlawan, atau secarik Keputusan Presiden tentang seorang pahlawan. Kepahlawanan adalah jiwa yang bebas untuk berpikir merdeka dan memerdekakan. (Abang Rahino, bisa dihubungi di sanggarkertas@gmail.com)

No comments:

Post a Comment

Comments/Pesan: