Thursday, March 19, 2009

Liberia Nan Merana

(Monrovia, minggu kedua Feb, 2009) Negeri ini benar-benar remuk. Saya tidak bisa membayangkan saat terjadi perang saudara selama 14 tahun yang berturut-turut. Korban 'sih "hanya" 200an ribu orang meninggal dan beberapa ratus ribu lain menjadi pengungsi internasional maupun IDP. Seorang staf saya yang pernah pacaran dengan anak Presiden Taylor - salahseorang pemimpin kudeta - dia pernah disekap oleh calon mertuanya itu. Di lingkungan istana ia disiksa dengan berbagai cara termasuk meneteskan lelehan tas plastik yang dibakar di sekujur tubuhnya. Keponakannya dipaksa menyaksikan ibunya yang sedang mengandung (maaf) dibelah perutnya dengan bayonet, keponakan yang sama juga dipaksa nonton pamannya yang lain disiksa dengan cara ditoreh-toreh dadanya hingga berdarah-darah. "Kalau hanya pemerkosaan 'sih jamak dilakukan di mana-mana. Teman sekolah saya diperkosa bergantian oleh duapuluh tentara dalam tempo beberapa saat saja", kata staf saya yang saya sembunyikan namanya ini. Saya pikir - paling tidak saat terjadi perang saudara - bangsa ini memang berperadaban lumayan rendah.

Bangsa Indonesia Pun Demikian
Tapi mungkin saya tidak adil berkata demikian, karena bangsa kitapun juga mengidap split personality. Dalam pergaulan, kita berperangai santun sehingga sangat bangga dengan hospitality khas ketimuran kita sampe jadi iklan segala, tapi lihatlah saat terjadi konflik. Entah di Poso, Ambon atau di Jawa, baik yang Kristen maupun yang Muslim, atau yang Hindu di Bali sekalipun, brutalitas juga ditunjukkan tuntas. Itu terjadi sejak jaman Mataram Purba (Hindu), Sriwijaya, Majapahit, Kediri, Demak, Mataram Islam, jaman Republik. Atau tidak usahlah jauh2 menunggu konflik dengan kekerasan, lihatlah cara kita berkendara di jalan raya: brutal, riuh rendah ribut membunyikan klakson, tidak sabaran dan nyaris semaunya. You are the way you drive, itu kata saya bukan kata orang bijak.

Dalam kadar yang "lebih halus" tetapi tetap berkategori pembunuhan dan penyiksaan yang kejam, adalah perlakuan tidak semena-mena pemegang kebijakan terhadap masyarakatnya. Perlakuan ini bisa bersifat kebijakan, politik kekuasaan, perilaku, black mail, tindakan, konspirasi, dan tindakan-tindakan tak terpuji yang ternyata merebak nan merata terjadi pada siapapun. Pada bangsa kita, ini terjadi di hampir semua lini masyarakat: lembaga kenegaraan dan pemerintahan, kalangan LSM, lembaga keagamaan termasuk lembaga gereja dan perilaku para pemimpin atau jemaatnya. Bernada pesimis? Tidak juga, karena penulis masih banyak melihat mereka yang jernih, walau mereka semakin tersisih.

Kekumuhan Itu
Kembali ke Liberia, di seluruh bagian ibukota Liberia, Monrovia, kekumuhan terjadi di mana-mana. Bahkan "istana" kepresidenan dan gedung parlemen yang dinamai Capitol Hill sekalipun juga kumuh. Kekumuhan itu masih dibumbui dengan bau busuk menyengat di mana-mana entah datang dari mana, sama dengan bau Kali Banger kalau di Semarang atau Gunung Sahari di ujung Utara yang sudah mendekati Ancol itu jika di Jakarta, namun tingkat kekumuhan dan kebauannya berlipat. Betul-betul disgusting. Maaf di Salatiga atau Yogyakarta tidak ada contohnya! Tanah Liberia berlumpur, sehingga menjadi sangat halus saat musim panas yang jatuh bulan Oktober-April, mirip di Jakarta di medio tahun 1960an. Sehingga debu sangat memprihatinkan.

Kekumuhan ini ditambah dengan kondisi fisik orang Liberia. Saya 'sih tidak bermaksud SARA dan tidak ada masalah dengan warna kulit yang hitam walau legam sekalipun, karena sayapun berkulit gelap ^..^, tapi sanitasi tubuh yang sangat tidak terjaga plus cara masak dan cara makan mereka baik yang educated apalagi yang tidak sempat mengenyam pendidikan, sungguh pemandangan yang mengerikan. Untuk pertama kali dalam hidup, saya menjadi paranoid terhadap lingkungan. Air mandi saya sirami Dettol sampai sering kebanyakan, tangan selalu saya basuh dengan semacam Antis setelah bersalaman dengan orang; jika harus makan di luar saya sama sekali tidak mau makan di restoran atau cafe yang bersifat lokal dan hanya mampir ke restoran2 yang didatangi orang-orang PBB atau INGO, yang minta ampun mahalnya; badan yang ter-exposed selalu saya lumuri obat nyamuk cair karena wabah malaria merebak disebabkan genangan2 rawa di berbagai tempat; saya tidak berani beli buah-buahan segar yang sebetulnya di jual di pasaran; Jika mau masak pun saya beli sayur kering bungkus buatan Lebanon; saya juga tidak makan daging, karena tidak jelas si daging datang dari mana, halal atau tidak...hehehe!

Yang jelas, Liberia adalah lokasi tepat untuk latihan survival bagi para pegiat disaster response, serius! Karena dalam kondisi sudah aman seperti sekarang dan setelah diurusi PBB melalui misi UNMIL-nya sejak tahun 2003, kondisi Liberia masih disastrous, kira-kira sama dengan Banda Aceh tepatnya di kawasan Uleleue dan Peunayeung di minggu ketiga-keempat Januari 2005. Kekumuhan barak di mana saya tidur bersama mas Agung di bulan Januari 2005 di depan Puskesmas hmmm...apa nama daerah itu, Posko YEU kedua setelah posko tenda di Blang Bintang itu, tidaklah sebanding dengan kekumuhan di Monrovia.

Dalam konteks yang demikian Liberia menjadi penuh pesona. Survival,... hmm bukankah itu kegiatan menantang?

Banyak produk Indonesia terdapat di sini, seperti SoKlin, Indomie, barang2 elektronik seperti PC yang saya pakai ini bermerk Dell buatan Indonesia, atau Toyota Corona buatan Indonesia. Produk2 Tiongkok lebih membludak. Tidak usah tanya harga di Liberia, karena cost of living di Liberia nyaris sama dengan di AS. Harga Indomie setara Rp 16.650 sebungkus, makan di resto yang bersih minimal Rp 199.800 jika makan nasi. Paling murah spagheti bolognese, nah karenanya saya selalu makan itu karena "hanya" Rp 111.000 seporsi. Sejam di warnet bayar Rp 16rb. Anehnya harga mobil relatif murah, entah politik ekonomi apa yang diterapkan Liberia yang pasti diajari oleh PBB yang disetir oleh negara2 kuat tertentu. Tipe MPV seperti Cherokee atau Blazer brand new hanya sekitar Rp70jutaan. Mobil2 bekas tapi masih bagus semacam BMW atau Mercedes tipe empat lima tahun lalu, paling2 Rp 45-60jt.

Pelaku bisnis sektor riil mayoritas masyarakat India, Libanon dan Tionghoa. Konon ada beberapa orang Indonesia tapi saya belum berjumpa dengan mereka. Masyarakat setempat lebih memilih jadi buruh kasar ( karena terpaksa ), white collar worker/PNS yang mengenyam pendidikan, atau bahkan banyak yang lebih suka menganggur.

Nilai Keluarga dan Perilaku Seksual
Saya yakin walau belum membuktikan, bahwa bangsa Liberia juga memiliki nilai keluarga yang luhur. Namun keyakinan itu terus terang terganggu dengan pandangan beberapa orang ( namun banyak, termasuk dari kalangan gereja ), dan juga perilaku yang saya saksikan sendiri, terkait dengan hubungan seksual. Di sini lumayan biasa pria beristri mempunyai WIL yang "setengah resmi" hidup bersama di rumah lain. Itu terjadi juga di kalangan pejabat institusi gereja. Salahsatu teman saya yang bermaksud baik hati agaknya pernah akan menjamu saya dengan seorang gadis. Di jok belakang mobil dinas saya, secara demonstratif seorang gadis Afrika yang seronok telah duduk di bagian tengah jok cenderung dekat ke saya. Saat itu saya dijemput sopir untuk makan malam. Dari cara omong dan cara pandang si gadis, tanpa harus merasa GR saya yakin ia "dipasang" untuk saya malam itu. Ketika kembali dari resto dan si gadis malang juga turun, saya tanya apakah dia akan tidur di hotel ini juga kok ikutan turun, dia agak grogi tidak menjawab. Teman saya yang bermaksud baik hati tadi langsung menyela: "It's ok then, she'll leave..." Teman lain juga berusaha "mengenalkan" saya ke perempuan lain lagi dengan mengatakan: "Beberapa ladies tetangga kantor kamu tanya kamu tuh. Kata mereka, siapa tuh laki-laki muda dari Middle East yang tinggal di kantor itu. Mereka pengin jadi ladies kamu lho" rupanya saya dikira juragan minyak dari Timur Tengah, disangka masih muda lagi! Padahal saya tahu persis nggak ada tetangga perempuan di sekitar kantor saya kecuali kantor lain, bengkel mebel, dan warung. Oh ada memang, tapi perempuan tua renta, jangan2 dia yang dimaksud teman saya tadi.

Semua pejabat UNMIL dan INGO yang tinggal di guesthouse waktu saya belum pindah ke guesthouse kantor, juga tinggal bersama para perempuan Liberia. Bahkan ketika masih transit di Accra, Ghana selama dua hari sebelum terbang ke Monrovia tanggal 24/1, seorang salesman berkebangsaan Inggris dari Birmingham penjual pompa untuk pengeboran minyak sudah promosi: "Wah,... di Monrovia banyak ladies". Ladies apa'an sih, pura2 saya tanya sembari ngetes. Kontan fasih dia menjawab: "Ya buat hidup bareng kamulah sementara jauh dari istri. Murah koq di sana" kata si salesman. Ck ck ck ck... sedemikiankah isu jender di Liberia terjerembab? Walau demikian setelah tiba di Liberia, saya 'sih di mana2 melihat stiker ditempel: "No help for sex. No sex for help", hmmm...

Liberia yang Sangat Amerika
Tak pelak bangsa Liberia adalah bangsa Amerika. Nyaris seluruh budaya hidup mereka adalah Amerika, tapi yang bagian miskin. Walau demikian, mereka sangat PD dalam segala hal. Di sini jangan kaget jika Anda berjumpa dengan berbagai institusi dagang, sosial atau bahkan bisnis tingkat warungan yang menyandang kata "internasional". Ketika saya tanya pada staf saya apa arti kata itu, apakah benar2 berafiliasi dengan jejaring internasional, dia tertawa lebar. "Ah itu hanya supaya tampak gagah aja" katanya ringan. Banyak juga 'kan yang begituan di Amerika sana > misalnya ini: World Wrestling Champion blablabla, tapi ternyata hanya peserta dari beberapa negara bagian AS yang ikutan, lalu dibuat film dan dijual ketengan ke stasion2 televisi di negara2 Selatan spt Indonesia, dan kita menikmatinya! Atau International University of America (ini sekedar misal karena saya nggak mau menyebut nama yang benar2 ada), tapi sebetulnya hanya jual ijasah melalui internet. Anda mau S2 atau Ph.D, tinggal pilih saja, "resmi" ada ijasahnya, masing2 ada harganya. Nggak mahal amat koq!

"Kere ning pedhe" itu kata orang Yogya ( = miskin tapi PD ), ucapan itu sangat pas ditimpakan pada orang Liberia. Walau rumah dan kondisi kwalitas hidup manusia mereka sangat rendah dan sangat kumuh, tapi mereka gemar hura-hura. Minuman beralkohol jamak dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat kaya miskin, entah dari mana duit mereka peroleh. Hanya sedikit yang mau berkendara sepedamotor atau sepeda, mobil adalah tumpangan umum orang Liberia. Pesta walau tampak norak untuk ukuran kita, adalah bagian penting dari keseharian mereka ( dlm hal ini mungkin bngsa kita mirip ya, bukankah utang dan jual harta jamak dilakukan orang Indonesia demi pesta perkawinan misalnya? ).

Pendidikan
Walau biaya pendidikan relatif "murah" karena hanya sedikit lebih mahal dibandingkan dengan Indonesia, tapi tingkat buta huruf sangat tinggi dan pendidikan sangat rendah di Liberia. Menurut saya mungkin pemerintah Liberia harus fokus ke sektor ini, disamping infrastruktur perhubungan dan enerji. Mungkin sudah saatnya kita sesama bangsa dari Kawasan Selatan yang sudah lumayan maju dibandingkan dengan Liberia, bisa mulai memikirkan menyalurkan bantuan walau setitik.

Prince adalah nama OB di kantor saya. Ia lulusan SLTA tipe rajin membaca. Segera setelah usai bekerja, dia duduk di meja tamu dan tekun membaca. Saat ini ia sedang membaca "Forgive for Good" karya Fred Luskin terbitan Harper. "Saya hobi musik dan sepakbola" kata Prince saat saya tanya hobinya. Kapan2 kalau sudah punya uang, ia ingin melanjutkan belajar ke Business College.

Saya terharu mendengar tuturannya dan sangat ingin memberi beasiswa tapi sayang nggak punya duit. Bagaimana kalau kita dari Indonesia mulai membangun bantuan kecil buat orang Liberia seperti Prince melalui penyaluran beasiswa. Kita buat saja lembaga dana beasiswa Indonesia untuk Liberia. Nggak usah gedhe2 amat, cukup untuk dua tiga orang pada awalnya, asalkan bisa mengentaskan mereka 'kan akan menjadi jembatan yang baik untuk persahabatan antarbangsa.

Silakan sumbangkan pikiran Anda untuk ide ini. Saya yakin paling tidak kekumuhan Liberia akan terkikis saat tingkat pendidikan lebih baik.Sehingga saya akan lebih krasan tinggal di sini, hehehee...

No comments:

Post a Comment

Comments/Pesan: