Sunday, March 22, 2009

CIDERA PADA CITRA SANG PENCIPTA


Mayat dalam kantong jenasah ini sudah tiga hari tergeletak di tepi jalan di 17th Street Sinkor, Monrovia.


Monrovia, 21/3/09. Uriah, petugas Satpam kantor saya di PDA Liberia berpenampilan lain pagi ini. Ia menutup separuh wajahnya di sebatas hidung ke bawah dengan sweater kumalnya.

“Hi, bagaimana kabarmu Uriah pagi ini”
“Baik, Pak. Saya berharap malam Anda juga terasa nyaman…”
“Tapi kamu tampak tidak sehat, kepala kamu dibalut kain begitu. Kamu sakit?”
“Ah enggak, Pak. Tapi seluruh wilayah sini bau bangkai. Itu lho, dari jasad pencuri yang empat hari lalu dikeroyok massa”
“Lho, jadi polisi belum mengambil jenasah itu dan menguburkannya? Kata kamu setelah tiga hari polisi akan mengambilnya. Twain, Prince, Emmanuel, Pete, dan Mr.Vordier Zor tetangga sebelah itu juga bilang begitu. Tapi ini sudah lima jam lewat dari empat hari!”
“Nggak tau tuh. Mungkin polisi membiarkan, agar penduduk sini yang menguburkannya, dan duit penguburannya mereka makan sendiri”

Pencuri malang itu memang empat hari lalu meninggal dikeroyok massa. Kira-kira jam dua atau tiga pagi hari, saya memang sedikit terbangun dengan hiruk pikuk keramaian yang tiba-tiba terjadi di jalanan. Namun karena memang saya tipe penidur lelap, maka dalam hitungan detik saya kembali tertidur.

Ketika saya bangun dan menyiapkan sarapan, lalu memberikan segelas susu coklat pada petugas Satpam, saya bertanya pada dia ada apa gerangan di jalanan kok ramai sekali.

“Ada mayat pencuri Pak, tuh di sudut luar pagar kita. Tadi pagi dikeroyok massa dan mati”
“Ooo… jadi itu toh ramai-ramai pagi tadi. Saya mendengarnya tapi tak peduli dan tidur. Polisi sudah datang?”
“Belum semua, tapi sudah ada seorang reserse polisi Liberia yang berjaga-jaga. Polisi UNMIL[1] akan datang”

Demikianlah, beberapa saat kemudian berdatangan delapan mobil-mobil besar bercat putih bertanda UN masing-masing berisi seorang anggota polisi UNMIL. Hmm… betapa borosnya, maklum seperti kebiasaan polisi di AS. Indonesia jauh lebih efisien, cukup dengan satu mobil Toyota Kijang 1.800cc berisi delapan reserse, urusan beres.

Para polisi UN itu petentang-petenteng, motret kiri kanan, dan melakukan identifikasi mayat. Kemudian membungkusnya dengan kantong mayat warna putih. Lalu mereka pergi dan meninggalkan sang mayat malang di tepi jalan yang berumput, persis di lokasi mayat itu ditemukan. Lho?

Prosedur Aneh
Sore harinya, Emmanuel Sackie, Kepala Satpam tugas jaga malam di kantor kami. Dia cerita jika mayat sang pencuri masih tergeletak di sudut luar pagar kantor, terbungkus kantong mayat.

“Lho, jadi tadi pagi waktu mereka meninggalkannya di sana, belum juga diambil sampai sekarang?”
“Yaah, memang begitu prosedurnya, Pak. Mereka membiarkannya sampai tiga hari”
“Lha kan membusuk”
“Nggak juga, mereka menyiram dan menyuntikkan bahan kimia, jadi tidak membusuk selama tiga hari itu”. Formalin-kah cairan itu, tidak tahu saya.
“Maksudnya apa? Kan kasihan si mayat itu, karena betapa pun dia ‘kan manusia yang harus kita hormati”
“Tapi itulah prosedur di seluruh Liberia sejak dulu, Pak. Polisi membiarkannya selama 72 jam, siapa tahu ada keluarga yang merasa kehilangan anggotanya mengidentifikasi mayat tersebut. Kepada mereka diberi hak untuk membawa mayat itu untuk dikuburkan secara layak”
“Lho kok aneh ‘sih… Bukankah tugas negara untuk mengurus mayat tak dikenal. Di negeri saya, polisi langsung membawanya ke rumahsakit, meminta RS itu melakukan autopsi lalu menyimpannya di lemari pendingin mayat. Kemudian mereka mengadakan konperensi pers tentang ditemukannya mayat itu, dan mempersilakan pihak-pihak yang kehilangan anggota keluarga agar datang ke rumahsakit untuk mengidentifikasi mayat tersebut. Jika memang anggota mereka, maka mereka harus lapor ke polisi untuk bisa membawa pulang mayat itu untuk dikuburkan dengan layak. Tapi jika tidak ada yang meng-klim mayat itu, maka pihak rumahsakit akan menyerahkannya pada Fakultas Kedokteran universitas terdekat, untuk dijadikan bahan praktek laboratorim forensik”
“Waah, itu ide bagus! Tapi mungkin rumahsakit kami tidak punya lemari pendingin mayat, hmm… dan nggak tau ya apakah di negara kami ada Fakultas Kedokteran. Tidak tahu saya”
“Ah mudah saja bikin alat pendingin semacam itu. Pada prinsipnya beberapa sistim lemari es di-bijnding[2] juga bisa jadi” kata saya sedikit sok berteori teknis karena saya mulai merasa kesal dengan sistim tidak manusiawi ini.

Di Penimbunan Sampah?
Dengan mengabaikan betapa tidak manusiawinya prosedur di Liberia ini, tetapi pagi ini sudah 101 jam setelah sang pencuri malang dibunuh massa. Bukankah seharusnya 72 jam? Dia masih tergeletak di sana walau dibungkus kantong mayat. Bau menyengatnya sudah menembus kantong mayat yang hanya ditutup dengan ritsleting panjang, dan mulai mengganggu lingkungan. Uriah sudah menutup separuh mukanya dengan sweater kumalnya. Dari kamar guesthouse saya yang tertutup rapat dan berpengatur suhu udara, bau itu tidak tembus. Namun ketika saya keluar di halaman, kombinasi antara bau formalin dan membusuknya tubuh memang terasa.

Ingatan saya terbawa ke tanggal 2 Januari 2005 ketika pertama kali saya menginjak Banda Aceh. Bedanya, di sana saya menyaksikan ribuan mayat baik di kantong mayat ataupun yang masih terbuka terserak di mana-mana karena tsunami. Saat itu saya tidak bertugas sebagai relawan perawat mayat, namun melakukan network assessment untuk program tanggap bencana oleh MCC. Di sudut pagar luar kantor saya pagi ini di Liberia, hanya ada satu mayat, juga terbungkus kantong. Tetapi setting-nya berbeda. Jika di Banda Aceh para relawan dari PMI, Karang Taruna, TNI, Polri, dan elemen masyarakat lain sudah bekerja keras sampai overwhelmed memakamkan puluhan ribu jasad itu dengan layak – walau berbagai kalangan terutama dari P.Jawa/Jakarta banyak yang mencaci tentang penanganan pembersihan Banda Aceh[3] - di sini di negara gurem si Liberia ini, negara punya legitimasi untuk bertindak amoral, asusila, dan tidak tahu apa lagi yang harus saya katakan.

Menjadi lebih geram lagi saya, setelah pagi ini Prince Toe, salah seorang staf kantor kami datang. Dia bertemu dengan petugas MCC (Monrovia City Council) yang menanyakan di mana lokasi mayat pencuri berada. Prince menunjukkannya. Petugas itu bercerita pada Prince bahwa siang ini mereka akan mengangkut mayat itu untuk dikubur.

“Baguslah jika demikian. Di pemakaman mana mereka akan menguburkannya?”
“Ah, nggak di pemakaman Pak. Mereka akan menggali tanah di penimbunan sampah, dan melemparkan kantong itu ke sana lalu menimbunnya”
“Hah? Jadi tidak dimakamkan di pekuburan? Kamu yakin jika mereka akan melakukannya demikian?”
“Yaah, memang dari dulu-dulunya juga begitu, Pak”
“Tempo hari kamu bilang polisi akan mengangkutnya dan menguburkannya”
“Mungkin saya salah cerita barangkali”
“Uedan tenan pemerintah kamu itu, Prince. Kamu harus tahu, betapapun dia itu pencuri, tetapi dia kan manusia juga. Dia jadi pencuri bukan atas kemauannya sendiri, tetapi karena terpaksa. Mungkin bininya mau melahirkan tetapi tidak punya uang. Atau anaknya sakit, atau harus bayar utang. Kita harus sadar bahwa manusia itu diciptakan secitra dengan Allah, dengan demikian memiliki modal sosial yang terbangun baik dalam dirinya. Jika ia jadi jahat, itu pasti karena lingkungan. Oleh karenanya lingkungan harus ikut bertanggung jawab. Lha negara kamu itu termasuk pemerintahnya, sudahlah brengsek, tidak mau ngurusi masyarakatnya lagi! Buat apa kalian menggaji mereka dengan pajak dan sumber-sumber milik kalian!? Kudeta saja mereka dan cari orang sing rada nggenah!” (Saya mengatakan tiga kata terakhir betul-betul dalam bahasa Jawa itu, yang berarti “yang lebih baik”)

“You said, Sir?”
“Find your better leaders to manage your country!”
“We’ll do, Sir, another two years. For sure, we’ll find them”, Prince tulus mengatakannya, agaknya dia benar-benar tercerahkan betapa para pemimpinnya adalah kumpulan orang-orang brengsek. Saya berharap kelak ada ribuan orang semacam Prince di Liberia sehingga para politisi di negeri gurem ini tidak keblinger.

Wah saya jadi uring-uringan bikin dosa pada orang yang tidak layak menerima cercaan saya. Apalagi memprovokasi untuk melakukan kudeta, wah bisa diekstradisi nih saya! Minta ampun Tuhan atas dosa saya yang satu ini. Tapi paling tidak Prince tercerahkan.

“Yeah, you are right Pak Abang! I got your idea! Iya betul, Alkitab bilang begitu ya, kita secitra dengan Allah, yaa betul ada di Kejadian 1 ayat 1”

“Bukan di sana, tapi di bagian lain sesudah itu walau saya tidak ingat di mana!”

“Oh iya, oke, mungkin nggak di sana, tetapi saya ingat ada di Alkitab, Kejadian, masih di buku satu. Anda betul, Pak. Kita harus menghormati dia walau dia pencuri ya”

Hanya Liberia?
Hmm… saya juga merasa berdosa lagi ketika saya sadar, bahwa seolah saya menceritakan tentang sistim dan perilaku yang dibangun bangsa Indonesia sudah sempurna. Padahal jamak kita dengar bahwa pencuri ayam atau jemuran mati naas dikeroyok massa. Atau penjahat atau yang dianggap penjahat disuruh pergi polisi namun kemudian ditembak untuk membuat “bukti” bahwa si penjahat mencoba melarikan diri. Bukankah praktek-praktek semacam itu terjadi juga di tengah bangsa kita? Atau praktek di AS yang cenderung mencari kambing hitam di antara masyarakat Afrika-Amerika saat terjadi peristiwa kriminal di tengah masyarakat.[4] Begitulah manusia, ketika kita masih menganggap bahwa kekuasaan (baca: sumber utama) yang menjadi komoditas paling berharga di antara berbagai resources umat manusia itu adalah entitas milik kita sendiri, maka jangan pernah kita bermimpi sekalipun tentang terciptanya suasana damai. Termasuk berdamai dengan kriminal walau sekedar memperlakukan mereka sebagai manusia yang bermartabat karena secitra dengan Allah.

[1] United Nations’ Mission on Liberia, misi perdamaian dan rekonstruksi PBB untuk Liberia sejak 2004 setelah negeri ini terbebas dari tiga kali perang saudara berturut-turut sejak 1980.
[2] Bijnding (baca “beindeng”: dijadikan satu dalam satu ikatan sistim (Bhs.Belanda)
[3] Biasalah, mungkin mereka adalah para pengamat kedodoran, dan pihak-pihak yang saat itu belum mendapat proyek. Tetapi setelah BRR berdiri dan kue dibagi-bagi, semakin sedikit tuh yang cerewet, mungkin karena sedang rame2 makan kue BRR!
[4] Komunitas sosialis Kristen Bruderhoff pernah melakukan advokasi dan mendorong dibebaskankannya Mumya Abu Djamal, seorang Afrika-Amerika yang dituduh melakukan pembunuhan dan menunggu hukuman mati, walau bukti-bukti baru menunjukkan bahwa dia sekedar kambing hitam. Peristiwa semacam kasus Mumya Abu Djamal ini jamak terjadi, kata Reuben Ayala, Direktur Advokasi Hak Asasi Manusia Komunitas Bruderhoff, dalam sebuah wawancara dengan Penulis.

No comments:

Post a Comment

Comments/Pesan: